Menghafal Al-Qur’an di Tengah Keterbatasan, Bukti Cinta yang Tak Butuh Kemewahan

Menghafal Al-Qur'an

Di banyak tempat yang jauh dari kata nyaman, Al-Qur’an justru tumbuh dengan sangat hidup. Di pesantren-pesantren sederhana, di rumah kecil yang nyaris tanpa fasilitas, terdengar lantunan ayat suci yang dibaca perlahan namun penuh kesungguhan. Mushaf yang digunakan mungkin sudah lusuh, penerangan seadanya, bahkan perut sering kali belum terisi sempurna. Namun semangat mereka untuk menjaga Kalamullah tidak pernah surut.

Menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang bergantung pada kemewahan. Ia lahir dari cinta yang tulus. Ketika hati telah terpaut dengan firman Allah, keterbatasan bukan lagi alasan untuk berhenti. Justru dalam kondisi seperti itulah Al-Qur’an terasa semakin dekat, menenangkan, dan menguatkan jiwa.

Allah ﷻ telah menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan untuk memberatkan hamba-Nya. Sebaliknya, Allah memudahkan siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin mengambil pelajaran darinya. Sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17)

Ayat ini menjadi penguat bagi mereka yang merasa hidupnya penuh kekurangan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi, melainkan oleh kesungguhan hati dan keistiqamahan usaha.

Tidak sedikit para penghafal Al-Qur’an berasal dari kalangan yatim dan dhuafa. Mereka mungkin tidak memiliki banyak pilihan dalam hidup, namun Allah memberi mereka anugerah besar berupa kecintaan kepada kitab-Nya. Rasulullah ﷺ pun menyampaikan kemuliaan orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an tanpa membedakan latar belakang mereka:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah harta, jabatan, atau fasilitas, tetapi sejauh mana seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Para sahabat Nabi pun memahami betul bahwa Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan hakiki. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْقُرْآنِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.”
(HR. Muslim)

Ucapan ini terasa sangat relevan hingga hari ini. Betapa banyak orang yang hidup sederhana, namun Allah muliakan karena Al-Qur’an yang mereka jaga. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup berkecukupan tetapi jauh dari kitab-Nya.

Menghafal Al-Qur’an di tengah keterbatasan juga melahirkan keikhlasan yang murni. Tidak ada ambisi dunia, tidak ada sorotan manusia. Yang ada hanyalah harapan agar setiap ayat yang terpatri di dada kelak menjadi cahaya dan penolong di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)

Bagi mereka yang hidup serba terbatas, Al-Qur’an adalah sandaran utama. Ia menjadi teman di saat sepi, penenang ketika lelah, dan penunjuk jalan ketika hidup terasa sempit. Dari sinilah kita memahami bahwa mencintai Al-Qur’an tidak membutuhkan kemewahan, cukup hati yang tunduk dan kesungguhan yang terus dijaga.

Semoga kisah dan realitas para penghafal Al-Qur’an di tengah keterbatasan tidak berhenti sebagai rasa haru semata, tetapi mampu menggerakkan kita untuk lebih peduli, mendukung perjuangan mereka, serta mendekatkan diri kita sendiri kepada Al-Qur’an. Sebab kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada seberapa dekat kita dengan firman Allah.

www.takrimulquran.org

You cannot copy content of this page