Fenomena FOMO dalam Perspektif Islam

fomo

Fenomena FOMO semakin banyak dialami di era media sosial. Bagaimana Islam memandang kondisi ini? Simak penjelasan lengkap beserta dalil Al-Qur’an, hadis, dan solusi mengatasinya.

Apa Itu FOMO?

Di zaman media sosial, rasanya hampir mustahil menjalani hari tanpa melihat kabar tentang keberhasilan orang lain. Ada yang baru membeli rumah, lulus pendidikan, menikah, berlibur ke luar negeri, atau memulai bisnis yang tampak sukses. Tidak sedikit orang yang kemudian merasa hidupnya berjalan lebih lambat dibanding mereka.

Perasaan inilah yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain. FOMO membuat seseorang merasa gelisah karena menganggap dirinya belum mencapai apa yang telah dimiliki atau diraih orang lain.

Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, hingga X memperkuat fenomena ini. Setiap hari kita disuguhi potongan-potongan kehidupan yang terlihat indah, padahal belum tentu mencerminkan kenyataan secara utuh.

Walaupun istilah FOMO baru dikenal pada era modern, akar persoalannya telah lama dijelaskan dalam Islam. Penyakit hati seperti cinta dunia yang berlebihan, iri hati, kurang bersyukur, dan lemahnya tawakal merupakan faktor yang dapat melahirkan perasaan tersebut.

Mengapa FOMO Berbahaya Menurut Islam?

Sekilas FOMO mungkin hanya terlihat sebagai rasa penasaran atau keinginan mengikuti tren. Namun jika dibiarkan, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Seseorang yang terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain akan semakin sulit mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Ia terdorong mengejar gaya hidup di luar kemampuannya, mudah merasa rendah diri, bahkan mengalami kecemasan yang berkepanjangan.

Padahal Allah mengajarkan bahwa ketenangan hati tidak lahir dari banyaknya harta ataupun pencapaian dunia, melainkan dari kedekatan kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini mengingatkan bahwa sumber ketenangan sejati bukanlah validasi manusia, melainkan dzikir kepada Allah.

Islam Melarang Terlalu Terpaku pada Kenikmatan Dunia Orang Lain

Salah satu penyebab utama FOMO adalah kebiasaan memandang apa yang dimiliki orang lain, sementara lupa menghitung nikmat yang telah Allah karuniakan kepada diri sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Taha: 131)

Ayat ini bukan berarti Islam melarang melihat keberhasilan orang lain. Yang dilarang adalah hati yang terus terpaut pada kenikmatan dunia hingga lupa bahwa semua itu hanyalah ujian dan titipan dari Allah.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Cara Menghindari Perasaan Minder

Islam memberikan solusi yang sangat praktis agar seseorang tidak mudah terjebak dalam perbandingan sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan perspektif yang sangat penting. Ketika seseorang hanya melihat mereka yang lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih sukses, ia akan mudah merasa kurang. Sebaliknya, ketika ia menyadari masih banyak orang yang hidup dalam kondisi lebih sulit, rasa syukur akan tumbuh dengan sendirinya.

FOMO Dapat Berujung pada Hasad

Perasaan takut tertinggal tidak selalu berhenti pada rasa sedih. Dalam beberapa kasus, ia berkembang menjadi hasad, yaitu berharap agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah hasad, karena hasad memakan pahala sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)

Hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menggerogoti amal kebaikan pelakunya.

Dunia Bukan Ukuran Kesuksesan Sejati

Banyak orang menganggap kebahagiaan hanya diukur dari jabatan, penghasilan, kendaraan, atau jumlah pengikut di media sosial. Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Popularitas akan memudar, harta bisa berkurang, dan tren selalu berganti. Yang akan tetap bernilai di sisi Allah hanyalah iman dan amal saleh.

Cara Mengatasi FOMO Menurut Islam

1. Perbanyak Bersyukur

Syukur merupakan penawar terbaik bagi hati yang selalu merasa kurang.

Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)

Orang yang bersyukur lebih mudah menikmati hidup karena fokusnya bukan pada apa yang belum dimiliki, melainkan pada nikmat yang telah Allah anugerahkan.

2. Perbanyak Berdzikir kepada Allah

Hati manusia mudah gelisah ketika terlalu sibuk mengejar penilaian manusia. Sebaliknya, dzikir mengembalikan hati kepada Sang Pencipta.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 152)

Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin kecil pengaruh pujian maupun pencapaian orang lain terhadap ketenangan jiwanya.

3. Yakin Bahwa Rezeki Sudah Ditentukan Allah

Salah satu penyebab FOMO adalah kekhawatiran bahwa kita tertinggal dalam urusan rezeki. Padahal Allah telah menetapkan bagian setiap hamba.

Allah berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)

Setiap orang memiliki waktu, jalan hidup, serta ujian yang berbeda. Tidak semua orang harus berhasil pada usia yang sama atau melalui jalan yang sama.

4. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Media sosial hanya memperlihatkan cuplikan terbaik kehidupan seseorang. Jarang ada yang membagikan kegagalan, kesedihan, atau perjuangan panjang di balik sebuah keberhasilan.

Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada terus mengawasi kehidupan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)

Jadikan Akhirat Sebagai Tujuan Utama

Ketika orientasi hidup hanya dunia, seseorang akan terus merasa kurang. Namun apabila tujuan utamanya adalah akhirat, dunia tidak lagi menjadi beban yang harus selalu dikejar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada hati yang merasa cukup.

Fenomena FOMO menjadi salah satu tantangan terbesar bagi masyarakat modern, terutama sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Islam tidak melarang seorang Muslim untuk bekerja keras, meraih prestasi, ataupun menikmati rezeki yang halal. Akan tetapi, Islam mengingatkan agar dunia tidak menguasai hati hingga melahirkan iri, gelisah, dan hilangnya rasa syukur.

Dengan memperbanyak dzikir, menumbuhkan rasa syukur, menjauhi hasad, memperkuat tawakal, serta menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup, seorang Muslim akan lebih mudah merasakan ketenangan yang hakiki.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka segeralah kembali kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki dibanding orang lain, melainkan dari seberapa dekat hati kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.