Ada hal sederhana yang sering luput dari perhatian kita: satu mushaf, satu tangan kecil, dan satu langkah awal menuju kedekatan dengan Al-Qur’an. Di pertengahan April 2026, Yataqu kembali menghadirkan momen-momen seperti itu – tenang, tidak ramai, tapi penuh makna.
Semua dimulai pada Senin, 13 April 2026. Di sebuah sudut Klaten, tepatnya di Jomboran, Karangtalun, Karangdowo, penyaluran mushaf dilakukan melalui Bapak Ripan untuk SD Surata. Tidak banyak, hanya 10 mushaf untuk 10 penerima. Tapi justru di situlah letak nilainya – setiap mushaf menemukan pemiliknya, tanpa sisa, tanpa sekadar menjadi pajangan.
Masih di hari yang sama, langkah itu berlanjut. Kali ini menuju SDN 1 Taji, di wilayah Ngepringan, Serenan, Juwiring. Bersama Bapak Suryanto, sebanyak 12 mushaf disalurkan kepada 12 penerima. Angkanya memang sederhana, tapi bayangkan – dua belas anak, dua belas kesempatan baru untuk belajar, membaca, dan mungkin suatu hari menghafal ayat-ayat-Nya.
Lalu, pada Selasa, 15 April 2026, perjalanan itu berlanjut ke SDN 3 Serenan. Melalui Ahyar Riyadi, 15 mushaf diberikan kepada 15 siswa. Di titik ini, terasa bahwa gerakan ini bukan sekadar rutinitas. Ada kesinambungan. Ada niat yang terus dijaga.
Dan akhirnya, pada Rabu, 22 April 2026, distribusi ditutup di SDN Juwiring. Bersama Sajiyem, kembali 15 mushaf disalurkan untuk 15 penerima. Seolah menjadi penutup yang tenang, tapi kuat – sebuah rangkaian yang utuh.
Jika dilihat sekilas, ini hanya angka: 10, 12, 15, 15. Tapi jika direnungkan, ini adalah puluhan hati yang disentuh. Puluhan kemungkinan yang dibuka. Karena setiap mushaf tidak hanya dibaca – ia hidup, ia menggerakkan, ia membentuk.
Dan di situlah letak keindahannya. Bukan pada jumlahnya, tapi pada dampaknya yang mungkin jauh melampaui apa yang terlihat hari ini.












