Awal tahun sering kali datang dengan harapan baru. Banyak orang menyiapkan rencana besar, target tinggi, dan perubahan drastis dalam hidupnya. Namun dalam Islam, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah yang tampak besar. Justru, perubahan paling hakiki sering kali bermula dari sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia, yaitu hijrah hati. Inilah hijrah yang sunyi, namun nilainya sangat agung di sisi Allah.
Hijrah hati adalah upaya memindahkan orientasi batin dari yang sebelumnya condong kepada dunia menuju Allah semata. Dari hati yang lalai menjadi hati yang sadar, dari niat yang bercampur menjadi niat yang lurus. Awal tahun menjadi momentum yang tepat untuk hijrah jenis ini, karena pergantian waktu sejatinya adalah pengingat bahwa hidup terus berjalan dan kesempatan untuk berubah tidak selalu datang dua kali.
Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini sering dibaca, namun jarang direnungkan secara mendalam. Perubahan yang dimaksud bukan semata perubahan keadaan lahiriah, melainkan perubahan hati, niat, dan cara pandang. Hijrah hati inilah yang menjadi fondasi bagi seluruh perbaikan amal. Tanpa hijrah hati, perubahan hanya akan bersifat sementara, mudah runtuh ketika semangat memudar.
Rasulullah ﷺ sejak awal telah menanamkan bahwa nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh niat yang bersemayam di hati. Dalam hadis yang sangat masyhur, beliau bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hijrah yang paling mendasar adalah hijrah niat. Seseorang boleh jadi belum mampu melakukan banyak amal besar, namun ketika hatinya mulai membenci maksiat, mencintai ketaatan, dan rindu untuk dekat kepada Allah, maka ia telah memulai hijrah yang sangat berarti. Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan makna hijrah secara lebih luas dan mendalam:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari)
Meninggalkan larangan Allah bukan hanya perkara anggota badan, tetapi terlebih dahulu perkara hati. Betapa banyak orang yang secara lahiriah tampak baik, namun hatinya masih dipenuhi riya, dengki, dan ketergantungan berlebihan kepada dunia. Karena itu, hijrah hati menjadi pekerjaan seumur hidup yang tidak pernah selesai.
Para sahabat Nabi ﷺ adalah generasi yang sangat memahami pentingnya hijrah batin. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Atsar ini mengajarkan bahwa muhasabah hati harus selalu mendahului perubahan lahiriah. Awal tahun bukan sekadar pergantian angka, tetapi kesempatan untuk duduk sejenak bersama hati, menanyakan ke mana arah hidup ini berjalan, dan untuk siapa semua ini dilakukan.
Ulama besar seperti Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga menegaskan bahwa hijrah sejati tidak pernah terikat oleh waktu dan tempat. Ia berkata:
الهِجْرَةُ هِجْرَتَانِ: هِجْرَةٌ بِالْقَلْبِ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهِجْرَةٌ بِالْجَسَدِ إِلَى بِلَادِ الإِسْلَامِ
“Hijrah itu ada dua: hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya, dan hijrah dengan jasad menuju negeri Islam.”
Hijrah hati menuju Allah berarti memindahkan rasa takut, harap, cinta, dan tawakal hanya kepada-Nya. Inilah hijrah yang paling berat, namun juga paling dicintai Allah. Langkahnya sering kali kecil dan tersembunyi, seperti menahan diri dari dosa yang disukai, meluruskan niat dalam amal, atau berusaha ikhlas dalam kebaikan yang tak mendapat pujian.
Awal tahun adalah momen yang lembut untuk memulai hijrah ini. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna, karena kesempurnaan bukan syarat untuk berubah. Cukuplah hati yang jujur dan kemauan untuk melangkah, meski tertatih. Allah Maha Mengetahui setiap getaran niat dan setiap usaha kecil hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah menenangkan hati orang-orang yang berusaha mendekat:
….وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami……”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Hijrah hati mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi ia dicatat dengan penuh perhatian oleh Allah. Di awal tahun ini, ketika dunia sibuk dengan target dan pencapaian, hijrah hati mengajarkan ketenangan: bahwa langkah kecil yang ikhlas jauh lebih bernilai daripada perubahan besar yang kehilangan arah. Dari sinilah keberkahan hidup bermula, dari hati yang pelan-pelan pulang kepada Tuhannya.








