Suatu hari kelak, kita akan berdiri sendirian.
Tanpa jabatan. Tanpa harta. Tanpa nama besar.
Yang tersisa hanyalah amal – dan salah satu yang paling jujur berbicara adalah Al-Qur’an.
Mushaf yang dulu kita letakkan di rak paling tinggi,
yang sering kita janjikan untuk dibaca “nanti”,
atau justru yang setiap hari kita sentuh dengan penuh cinta –
semuanya akan bersaksi.
Mushaf Itu Diam, Tapi Tidak Pernah Lupa
Di dunia, mushaf hanyalah lembaran kertas berisi tinta.
Ia tidak menegur saat kita menjauhinya.
Tidak memaksa ketika kita lebih memilih layar ponsel.
Ia diam… tapi Allah mencatat hubungan kita dengannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.”
(HR. Muslim)
Perhatikan kalimatnya: “bagi orang yang membacanya.”
Bukan yang sekadar memilikinya.
Bukan yang hanya menyimpannya dengan rapi.
Ada Mushaf yang Membela, Ada yang Menuntut
Bayangkan dua orang berdiri di hadapan Allah.
Yang pertama, mushafnya bersaksi:
“Ya Rabb, ia membuka aku saat lapang dan sempitnya.
Ia membacaku meski terbata.
Ia mengamalkanku meski berat.”
Maka Al-Qur’an menjadi pembela, menjadi cahaya, menjadi alasan rahmat.
Namun yang kedua…
mushafnya berkata:
“Ya Rabb, aku ada di rumahnya,
tapi tak pernah disentuh.
Ia tahu kebenaran, tapi memilih berpaling.”
Na’udzubillah.
Rasulullah ﷺ sendiri mengadu kepada Allah:
“Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
(QS. Al-Furqan: 30)
Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya tidak membaca,
tetapi juga tidak merenungkan, tidak mengamalkan, dan tidak menjadikannya pedoman hidup.
Kita Tidak Ditanya Berapa Banyak, Tapi Seberapa Jujur
Allah tidak menuntut semua orang khatam setiap hari.
Tidak semua orang mampu membaca dengan lancar.
Tapi Allah melihat kejujuran hati.
Ada orang yang baca satu halaman dengan air mata.
Ada yang menghafal banyak, tapi hatinya jauh.
Maka jangan kecil hati.
Satu ayat yang dibaca dengan sadar,
lebih bernilai daripada banyak halaman tanpa rasa.
Mushaf yang Kita Wakafkan, Juga Akan Bersaksi
Tidak semua orang mampu membaca dengan baik.
Tapi setiap orang bisa menjadi sebab orang lain membaca.
Mushaf yang kita wakafkan ke pesantren, TPQ, masjid, atau pelosok –
akan terus dibaca meski kita telah tiada.
Setiap huruf yang dilafalkan santri,
setiap ayat yang dihafal anak-anak –
pahalanya mengalir kepada orang yang menjadi sebabnya.
Inilah amal yang tidak ribut di dunia,
tapi nyaring di akhirat.
Jangan Tunggu Sempurna untuk Kembali ke Al-Qur’an
Banyak orang berkata:
“Nanti kalau sudah tenang.”
“Nanti kalau sudah alim.”
“Nanti kalau hidup sudah beres.”
Padahal Al-Qur’an diturunkan bukan untuk orang suci,
tapi untuk membersihkan manusia.
Datanglah kepada mushaf apa adanya.
Dengan dosa, luka, dan lelahmu.
Karena kelak, mushaf itu akan berkata:
“Ia datang kepadaku saat paling butuh.”
Penutup: Pastikan Mushaf Mengenal Kita
Sebelum hari di mana mulut dikunci
dan seluruh anggota tubuh berbicara,
pastikan Al-Qur’an mengenal kita sebagai sahabat,
bukan sebagai orang asing.
Karena ketika mushaf menjadi saksi di akhirat,
tidak ada yang bisa menyanggahnya.
Dan betapa indahnya jika ia bersaksi:
“Ya Allah, ia mencintaiku.”








