Bulan Ramadan adalah bulan istimewa yang Allah wajibkan atas umat Islam. Namun, tahukah kita bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad ﷺ? Ibadah ini telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu sebelum kita. Lalu, apa perbedaan puasa umat Nabi Muhammad ﷺ dengan umat sebelumnya?
Artikel ini akan membahasnya secara ilmiah, disertai dalil Al-Qur’an dan hadits.
Puasa Juga Diwajibkan kepada Umat Terdahulu
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa puasa telah menjadi syariat umat-umat sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Namun, bentuk dan tata caranya tidak sama.
Perbedaan dalam Waktu dan Durasi Puasa
Puasa umat Nabi Muhammad ﷺ diwajibkan selama satu bulan penuh, yaitu bulan Ramadan.
Allah ﷻ berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Sedangkan umat terdahulu memiliki bentuk puasa yang berbeda-beda:
- Umat Nabi Musa ‘alaihis salam berpuasa pada hari tertentu seperti hari ‘Asyura.
- Kaum Nasrani awalnya diwajibkan puasa pada waktu tertentu, namun kemudian mereka mengubahnya.
- Ada riwayat bahwa sebagian umat terdahulu jika telah tidur setelah berbuka, maka mereka tidak boleh makan hingga malam berikutnya.
Ini menunjukkan adanya perbedaan syariat dalam teknis pelaksanaannya.
Perbedaan dalam Keringanan (Rukhshah)
Syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ memiliki kemudahan yang tidak selalu dimiliki umat terdahulu.
Allah ﷻ berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Dalam Islam:
- Orang sakit boleh berbuka dan mengganti di hari lain.
- Musafir boleh tidak berpuasa.
- Orang tua renta boleh membayar fidyah.
Kemudahan ini menunjukkan bahwa syariat Nabi Muhammad ﷺ lebih sempurna dan penuh rahmat.
Perbedaan dalam Waktu Berbuka
Pada awal Islam, jika seseorang tidur setelah berbuka sebelum makan, maka ia tidak boleh makan hingga esok hari. Hal ini mirip dengan sebagian syariat umat terdahulu.
Namun kemudian Allah memberikan keringanan:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian…”
(QS. Al-Baqarah: 187)
Ini menunjukkan bahwa syariat Islam mengalami penyempurnaan dan keringanan dibandingkan sebelumnya.
Perbedaan dalam Tujuan Spiritual
Walaupun secara hukum ada perbedaan, tujuan puasa tetap sama, yaitu membentuk ketakwaan.
Dalam Islam ditegaskan:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Namun umat Nabi Muhammad ﷺ memiliki keistimewaan tambahan, yaitu:
- Turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadan.
- Adanya malam Lailatul Qadar.
- Pahala dilipatgandakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perbedaan dalam Kesempurnaan Syariat
Syariat Islam adalah penyempurna syariat sebelumnya.
Allah ﷻ berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Puasa dalam Islam hadir sebagai bentuk penyempurnaan dari ibadah puasa umat-umat sebelumnya.
Puasa bukanlah ibadah baru yang hanya ada pada umat Nabi Muhammad ﷺ. Ia telah menjadi syariat sejak zaman umat terdahulu. Namun, terdapat beberapa perbedaan penting:
- Perbedaan waktu dan bentuk pelaksanaan.
- Perbedaan tingkat keringanan syariat.
- Perbedaan dalam kesempurnaan dan keutamaannya.
Umat Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan kemudahan, penyempurnaan, dan keistimewaan yang tidak diberikan secara lengkap kepada umat sebelumnya.
Semoga dengan memahami hal ini, kita semakin bersyukur atas nikmat menjadi bagian dari umat Nabi terakhir ﷺ dan semakin semangat menjalankan puasa Ramadan dengan penuh keimanan.








