Tafsir Surat Al-‘Ashr, Mengapa Manusia Disebut Merugi?

Tafsir Surat Al-‘Ashr: Mengapa Manusia Disebut Merugi?

Surat Al-‘Ashr memang singkat. Hanya tiga ayat. Namun, di dalamnya tersimpan peta kehidupan manusia yang sangat lengkap: waktu terus bergerak, usia perlahan berkurang, dan setiap orang berada di ambang kerugian—kecuali mereka yang menempuh jalan yang telah Allah sebutkan.

Allah SWT berfirman:

Surat Al-‘Ashr Ayat 1-3

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Latin:

Wal-‘ashr. Innal-insāna lafī khusr. Illalladzīna āmanū wa ‘amilush-shāliḥāti wa tawāshaubil-ḥaqqi wa tawāshaubish-shabr.

Artinya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Referensi: QS. Al-‘Ashr ayat 1-3. Tafsir Ibnu Katsir menempatkan pembahasan Surat Al-‘Ashr pada halaman 601.

Surat Al-‘Ashr Termasuk Surat Apa?

Surat Al-‘Ashr merupakan surat ke-103 dalam Al-Qur’an dan terdiri atas tiga ayat. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, surat ini dikategorikan sebagai surat Makkiyyah.

Kata Al-‘Ashr berarti masa atau waktu. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Allah membuka surat dengan sumpah demi waktu, seakan-akan mengajak manusia berhenti sejenak dan menyadari sesuatu yang sering luput dari perhatian: hidup sedang berjalan, bahkan ketika kita merasa tidak melakukan apa-apa.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa al-‘ashr berkaitan dengan zaman atau masa yang menjadi tempat berlangsungnya seluruh aktivitas manusia, baik kebaikan maupun keburukan.

Jadi, sejak ayat pertama, Surat Al-‘Ashr sudah mengarahkan perhatian kita kepada modal terbesar dalam kehidupan: waktu.

Mengapa Allah Bersumpah Demi Masa?

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ

Latin: Wal-‘ashr.

Artinya: “Demi masa.”

Sumpah Allah dalam Al-Qur’an selalu mengandung penekanan. Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, berarti perkara tersebut memiliki kedudukan penting dan layak direnungkan.

Waktu adalah modal yang unik. Ia terus berkurang, tetapi tidak pernah bisa ditabung. Harta yang hilang masih mungkin dicari. Barang yang rusak dapat diganti. Kesempatan tertentu bahkan kadang bisa datang kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Setiap hari yang selesai berarti satu bagian dari umur telah pergi.

Karena itu, manusia sebenarnya sedang membelanjakan modal kehidupannya setiap saat. Pertanyaannya bukan apakah waktu akan berlalu, melainkan untuk apa waktu itu digunakan sebelum benar-benar habis.

Mengapa Manusia Disebut Berada dalam Kerugian?

Allah kemudian berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Latin: Innal-insāna lafī khusr.

Artinya: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Kata خُسْرٍ (khusr) memiliki cakupan makna yang luas. Ia dapat berarti kerugian, kehilangan, kekurangan, kehancuran, bahkan kebinasaan.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian dan kebinasaan. Imam At-Thabari menerangkannya dengan istilah halakah wa nuqshan, yakni kebinasaan dan kekurangan. Adapun Tafsir Al-Qurthubi menyebut sejumlah makna yang berkaitan dengan kata tersebut, seperti kerugian, kebinasaan, hukuman, keburukan, dan kekurangan.

Apa yang sebenarnya hilang?

Kerugian yang dimaksud bukan sekadar kehilangan uang, jabatan, atau harta benda.

Yang paling besar adalah hilangnya umur dan kesempatan untuk beramal.

Detik yang berlalu tidak dapat dipanggil kembali. Jika ia digunakan untuk ketaatan, ia berubah menjadi bekal. Jika dihabiskan dalam maksiat, kelalaian, atau aktivitas yang sia-sia, kesempatan itu lenyap tanpa bisa diulang.

Inilah sebabnya kerugian dalam Surat Al-‘Ashr jauh lebih serius daripada kerugian materi. Harta dapat dicari kembali, sedangkan umur tidak.

Apakah Semua Manusia Merugi?

Pada ayat kedua, Allah menggunakan lafaz:

إِنَّ الْإِنسَانَ

“Sesungguhnya manusia…”

Ungkapan ini bersifat umum. Secara asal, manusia berada dalam kerugian karena waktu terus berjalan dan usia terus berkurang.

Namun, Allah tidak membiarkan manusia tanpa jalan keluar. Pada ayat berikutnya, Dia memberikan pengecualian:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

“Kecuali orang-orang yang beriman.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, orang-orang yang selamat dari kerugian adalah mereka yang memiliki empat sifat utama:

  1. Beriman.
  2. Beramal saleh.
  3. Saling menasihati dalam kebenaran.
  4. Saling menasihati dalam kesabaran.

Empat sifat ini bukan daftar yang berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi dan membentuk jalan keselamatan seorang Muslim.

1. Beriman kepada Allah

Allah berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

Latin: Illalladzīna āmanū.

Artinya: “Kecuali orang-orang yang beriman.”

Iman menjadi syarat pertama karena ia adalah fondasi seluruh amal.

Iman bukan sekadar ucapan di lisan. Ia mencakup keyakinan hati kepada Allah dan seluruh perkara yang wajib diimani, lalu tercermin dalam sikap hidup seseorang.

Mengapa iman disebut sebelum amal saleh? Karena amal yang benar membutuhkan dasar keyakinan yang benar. Iman memberi arah, tujuan, dan nilai pada setiap perbuatan.

Tanpa iman, seseorang mungkin melakukan banyak hal yang tampak baik secara lahiriah. Namun, kedudukannya tidak sama dengan amal orang beriman di sisi Allah.

2. Mengamalkan Kebaikan

Setelah menyebut iman, Allah berfirman:

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Latin: Wa ‘amilush-shāliḥāt.

Artinya: “Dan mengerjakan amal-amal saleh.”

Iman yang hidup akan melahirkan amal. Ia tidak berhenti sebagai pengakuan, tetapi bergerak menjadi ketaatan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang yang dikecualikan dari kerugian adalah mereka yang beriman dengan hati dan mengerjakan amal saleh melalui anggota badan.

Amal saleh mencakup banyak hal: shalat, puasa, zakat, sedekah, berbakti kepada orang tua, menolong sesama, menjaga lisan, menunaikan amanah, meninggalkan maksiat, serta berbagai bentuk kebaikan yang diridai Allah.

Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya berkata, “Saya beriman.” Keimanan perlu terlihat dalam pilihan, kebiasaan, dan perilakunya sehari-hari.

3. Saling Menasihati dalam Kebenaran

Allah berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

Latin: Wa tawāshaubil-ḥaqq.

Artinya: “Dan saling menasihati untuk kebenaran.”

Islam tidak mengajarkan seseorang hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Setelah berusaha berada di jalan yang benar, seorang Muslim juga memiliki tanggung jawab untuk mengajak orang lain kepada kebaikan sesuai kemampuan, ilmu, dan tuntunan syariat.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tawāshau bil-ḥaqq mencakup pelaksanaan ketaatan dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.

Namun, nasihat tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Menyampaikan kebenaran membutuhkan ilmu, kelembutan, dan kebijaksanaan. Cara menyampaikan nasihat juga perlu disesuaikan dengan keadaan orang yang dinasihati.

Nasihat bukan ajang untuk merasa lebih tinggi.

Nasihat bukan sarana mempermalukan.

Nasihat adalah bentuk kepedulian agar seseorang tidak tersesat dan tetap berada di jalan yang diridai Allah.

4. Saling Menasihati dalam Kesabaran

Allah melanjutkan:

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Latin: Wa tawāshaubish-shabr.

Artinya: “Dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Mengetahui kebenaran saja belum cukup. Menjalankannya membutuhkan kesabaran.

Seseorang perlu bersabar ketika:

  • melaksanakan ketaatan,
  • meninggalkan maksiat,
  • menghadapi ujian,
  • mempertahankan iman,
  • berdakwah,
  • memperbaiki diri,
  • dan terus berbuat baik meskipun hasilnya belum terlihat.

Jalan kebaikan tidak selalu lapang. Ada rasa lelah, godaan, penolakan, kegagalan, dan masa-masa ketika semangat menurun. Karena itu, manusia membutuhkan lingkungan yang saling menguatkan.

Surat Al-‘Ashr tidak hanya memerintahkan saling menasihati dalam kebenaran, tetapi juga saling mengingatkan agar tetap sabar dalam menjalankan kebenaran tersebut.

Empat Syarat Agar Tidak Merugi

Jika dirangkum, Surat Al-‘Ashr menunjukkan empat jalan agar manusia tidak termasuk golongan yang merugi:

SyaratMakna
ImanMembenarkan dan meyakini Allah serta perkara yang wajib diimani
Amal salehMembuktikan iman melalui ketaatan
Tawāṣī bil-ḥaqqSaling mengingatkan dalam kebenaran
Tawāṣī bish-shabrSaling menguatkan dalam kesabaran

Keempatnya tidak dapat dipisahkan.

Iman tanpa amal belum menunjukkan kesempurnaan yang dituntut ayat. Sebaliknya, amal tanpa iman tidak menempatkan seseorang dalam kelompok yang dikecualikan.

Selain itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memperbaiki dirinya sendiri. Ia juga perlu membangun kepedulian sosial: mengingatkan dalam kebenaran dan menguatkan dalam kesabaran.

Apa Hubungan Surat Al-‘Ashr dengan Kehidupan Sehari-hari?

Pesan Surat Al-‘Ashr terasa sangat dekat dengan kehidupan kita.

Setiap orang menerima jatah waktu yang sama dalam sehari. Namun, hasil yang lahir dari waktu itu bisa sangat berbeda.

Bagi sebagian orang, waktu berubah menjadi ilmu. Bagi yang lain, ia menjadi ibadah, amal sosial, pekerjaan halal, atau nafkah bagi keluarga. Tetapi ada pula yang membiarkan waktunya habis dalam kelalaian, hiburan tanpa batas, dan perkara yang tidak membawa manfaat.

Di sinilah letak pentingnya sumpah Allah demi masa.

Waktu bukan sekadar angka yang bergerak di layar ponsel atau jarum jam. Ia adalah bagian dari umur yang sedang membawa manusia menuju akhir kehidupannya.

Hadis tentang Pentingnya Memanfaatkan Waktu

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Latin: Ni’matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās: ash-shiḥḥatu wal-farāgh.

Artinya: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”

Referensi: Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis tentang الصحة والفراغ.

Hadis ini sejalan dengan pesan Surat Al-‘Ashr. Banyak orang baru memahami mahalnya kesehatan setelah jatuh sakit. Demikian pula, banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kesempatan berlalu dan tidak mungkin diulang.

Pelajaran Penting dari Surat Al-‘Ashr

Ada sejumlah pelajaran besar yang dapat direnungkan dari surat ini.

1. Waktu adalah amanah

Waktu bukan milik manusia secara mutlak. Ia adalah pemberian Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

2. Umur yang berlalu tidak dapat kembali

Karena itu, seorang Muslim perlu mengevaluasi kebiasaan dan aktivitasnya. Tidak semua kesibukan berarti produktif.

3. Keselamatan membutuhkan iman dan amal

Islam tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati. Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk beramal saleh.

4. Kebenaran perlu diperjuangkan bersama

Manusia mudah lupa dan lemah. Lingkungan yang saling mengingatkan dapat membantu seseorang tetap berada di jalan yang benar.

5. Ketaatan membutuhkan kesabaran

Konsisten dalam kebaikan bukan perkara ringan. Itulah sebabnya Allah menyebut tawāṣī bish-shabr sebagai salah satu sifat orang-orang yang selamat.

Mengapa Surat Al-‘Ashr Disebut Sangat Padat Maknanya?

Meskipun hanya terdiri dari tiga ayat, Surat Al-‘Ashr memuat gambaran menyeluruh tentang kondisi manusia sekaligus jalan keselamatannya.

Ibnu Katsir menukil perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّورَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

Latin: Law tadabbaran-nāsu hādhihis-sūrata lawasi’athum.

Makna: “Seandainya manusia merenungkan surat ini, niscaya surat ini telah mencukupi mereka.”

Perkataan tersebut tidak berarti manusia tidak membutuhkan seluruh Al-Qur’an. Maksudnya, Surat Al-‘Ashr merangkum prinsip-prinsip besar kehidupan dengan susunan yang sangat singkat: waktu, kerugian, iman, amal, kebenaran, dan kesabaran.

Manusia Merugi Jika Menyia-nyiakan Waktu

Surat Al-‘Ashr menyampaikan pesan yang tegas: manusia berada dalam kerugian karena waktu terus berjalan dan umur terus berkurang.

Namun, Allah memberikan pengecualian kepada mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Dengan demikian, keberhasilan seorang Muslim tidak hanya diukur dari panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya kedudukan. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana umur tersebut digunakan.

Setiap hari yang berlalu merupakan bagian dari modal kehidupan yang tidak akan kembali.

Maka, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya:

“Berapa lama saya sudah hidup?”

Melainkan:

“Untuk apa waktu yang Allah berikan kepada saya digunakan?”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak merugi: memiliki iman, memperbanyak amal saleh, mencintai kebenaran, dan bersabar dalam menjalankannya.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Referensi Utama

  1. Al-Qur’an, QS. Al-‘Ashr ayat 1-3.
  2. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir, pembahasan Surat Al-‘Ashr, hlm. 601.
  3. Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān (Tafsir At-Thabari), Imam Abu Ja’far Ath-Thabari, tafsir QS. Al-‘Ashr ayat 2.
  4. Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān (Tafsir Al-Qurthubi), Imam Al-Qurthubi, tafsir QS. Al-‘Ashr ayat 2.
  5. Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis tentang dua kenikmatan: kesehatan dan waktu luang.
  6. Tafsir Jalalain, Surat Al-‘Ashr ayat 1-3.