HP: Alat yang Netral, Tetapi Penggunaannya Bisa Menjadi Pahala atau Dosa
Hampir setiap hari, bahkan hampir setiap waktu, HP berada dalam genggaman kita.
Baru membuka mata, tangan mencari HP. Sedang makan, layar tetap menyala di samping piring. Menunggu beberapa menit saja terasa cukup untuk membuka media sosial. Menjelang tidur, sering kali layar HP menjadi benda terakhir yang kita tatap.
Lalu, pertanyaan yang semestinya muncul bukan hanya:
“Apakah memiliki HP itu boleh?”
Pada dasarnya, HP hanyalah alat. Ia tidak membawa pahala atau dosa dengan sendirinya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Selama ini, HP saya lebih sering membawa saya mendekat kepada Allah atau justru perlahan menjauhkan saya dari-Nya?”
Dengan HP, seseorang bisa membaca Al-Qur’an, mendengarkan kajian, mempelajari ilmu agama, menyambung silaturahmi, mencari nafkah, dan menolong sesama.
Namun perangkat yang sama juga dapat membuka pintu ghibah, fitnah, pornografi, pertengkaran, pamer, kecanduan hiburan, dan pemborosan umur.
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya bertanya apakah teknologi boleh digunakan. Ia juga perlu bertanya:
“Untuk apa saya menggunakannya?”
1. Islam Sangat Memperhatikan Waktu
Salah satu surat Al-Qur’an yang terasa sangat dekat dengan kehidupan digital adalah Surah Al-‘Ashr.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Dalam Tafsir Jalalain, “wal-‘ashr” dijelaskan berkaitan dengan masa atau waktu. Manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang menghimpun iman, amal saleh, nasihat dalam kebenaran, dan kesabaran.
Apa hubungannya dengan HP?
Coba perhatikan kebiasaan yang sering terjadi.
Seseorang membuka HP dengan niat melihat sesuatu selama lima menit.
Lima menit berlalu. Ia masih menggulir layar.
Tanpa terasa, lima menit berubah menjadi setengah jam. Setengah jam berubah menjadi satu jam. Setelah itu, ia menutup HP tanpa benar-benar tahu apa yang tadi dicari.
Inilah salah satu wajah kehidupan digital:
waktu menghilang tanpa suara.
Tentu, tidak setiap menit menggunakan HP berarti dosa. Masalahnya bukan semata-mata pada durasi, melainkan pada dampaknya.
Apakah penggunaan HP itu memberi manfaat? Ataukah justru menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk shalat, bekerja, belajar, berbakti kepada orang tua, atau melakukan amal saleh?
2. Rasulullah ﷺ Mengingatkan tentang Nikmat Waktu
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Latin:
Ni’matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās: ash-shiḥḥatu wal-farāgh.
Artinya:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahih al-Bukhari no. 6412 dan berstatus sahih.
Pesan hadis ini terasa semakin kuat di zaman ketika hiburan dapat diakses hanya dengan satu sentuhan.
Kita sering memperlakukan waktu luang seolah-olah tidak memiliki nilai. Padahal waktu bukan sekadar ruang kosong di antara dua kesibukan. Waktu adalah bagian dari umur.
Satu jam yang berlalu tidak bisa dipanggil kembali.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa jam saya memegang HP?”
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Apa yang saya lakukan selama memegang HP?”
3. HP Bisa Menjadi Ladang Pahala
Jangan sampai pembahasan tentang bahaya HP membuat kita menyimpulkan bahwa teknologi selalu buruk.
Tidak demikian.
Jika digunakan dengan benar, HP justru dapat menjadi sarana kebaikan yang luas. Melalui perangkat kecil ini, seseorang bisa:
- membaca Al-Qur’an;
- mendengarkan murattal;
- mengikuti kajian;
- membaca kitab;
- belajar bahasa Arab;
- bersedekah;
- membantu orang lain;
- menyambung silaturahmi;
- mencari nafkah;
- menyebarkan ilmu;
- mengingatkan orang lain kepada kebaikan.
Teknologi bukan musuh yang harus dimusuhi.
Yang perlu diperbaiki adalah cara kita memperlakukannya.
HP yang sama dapat berada di tangan seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an. HP itu pula dapat berada di tangan orang lain yang sedang membuka pintu maksiat.
Perangkatnya sama.
Arah penggunaannya yang berbeda.
4. Jangan Sampai HP Membuat Kita Lalai dari Mengingat Allah
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)
Ayat ini memang tidak menyebut HP atau media sosial secara langsung. Namun prinsipnya sangat jelas:
Apa pun yang membuat seseorang lalai dari mengingat Allah harus diwaspadai.
Dahulu, kelalaian mungkin datang melalui perdagangan, harta, atau kesibukan dunia. Kini, kelalaian itu bisa hadir dari layar kecil yang selalu berada di tangan.
Bukan ukuran perangkatnya yang penting, melainkan seberapa besar ia menguasai perhatian dan hati kita.
5. Jangan Sampai “Lima Menit” Mengalahkan Waktu Shalat
Salah satu tanda bahwa penggunaan HP mulai tidak sehat adalah ketika seseorang lebih sigap merespons notifikasi daripada memenuhi panggilan shalat.
Notifikasi berbunyi:
“Ting!”
Tangan langsung bergerak membuka layar.
Adzan berkumandang:
“Allahu Akbar…”
Jawabannya:
“Sebentar lagi.”
Jika kebiasaan ini terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar penggunaan HP. Ini sudah menyentuh masalah prioritas hati.
Seorang Muslim perlu berhenti sejenak dan menilai kembali apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.
Jika HP membuat kita terlambat shalat, meninggalkan kewajiban, mengabaikan orang tua, menunda pekerjaan, atau menghabiskan waktu tanpa arah, berarti ada sesuatu yang perlu dibenahi.
6. Media Sosial dan Penyakit “Mencari Tahu Semua Hal”
Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Latin:
Min ḥusni islāmil-mar’i tarkuhu mā lā ya’nīh.
Artinya:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur. Imam at-Tirmidzi meriwayatkannya dalam Sunan at-Tirmidzi. Imam an-Nawawi juga mencantumkannya sebagai hadis hasan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam Riyadhus Shalihin.
Dalam kehidupan media sosial, hadis ini mengajarkan satu hal penting: tidak semua hal layak diberi perhatian.
Apakah semua yang muncul di timeline harus kita ketahui?
Tidak.
Tidak semua drama perlu diikuti.
Tidak semua kehidupan orang lain harus dikomentari.
Tidak semua video wajib ditonton.
Tidak semua perdebatan pantas dimasuki.
Tidak semua berita layak disebarkan.
Kadang-kadang, menjaga hati cukup dilakukan dengan cara sederhana:
scroll, lalu lewatkan.
7. Bahaya Ghibah di Era Digital
Dahulu, ghibah biasanya berlangsung dalam majelis atau percakapan tatap muka.
Sekarang, ghibah bisa menyebar melalui:
- WhatsApp;
- kolom komentar;
- grup keluarga;
- forum;
- Instagram;
- TikTok;
- Telegram;
- dan berbagai platform digital lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Karena itu, sebelum menekan tombol “send”, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apakah saya rela kalimat ini dibacakan di hadapan Allah?”
Jika jawabannya tidak, mungkin kalimat itu memang tidak perlu dikirim.
8. Umar bin Khattab: Muhasabah Sebelum Dihisab
Ada sebuah atsar yang masyhur dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّ أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ الْيَوْمَ
Artinya:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian dalam hisab esok hari jika kalian menghisab diri kalian hari ini.”
Atsar ini diriwayatkan dalam Az-Zuhd karya Imam Ahmad no. 633. Jalurnya melalui Tsabit bin al-Hajjaj dari Umar. Ibn Katsir menyebutnya masyhur, tetapi terdapat keterputusan sanad. Jadi, ia adalah atsar yang masyhur, bukan hadis Nabi ﷺ.
Nasihat Umar ini sangat tepat diterapkan dalam penggunaan HP.
Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri:
“Hari ini HP saya digunakan untuk apa?”
Berapa menit untuk menuntut ilmu?
Berapa menit untuk keluarga?
Berapa menit untuk pekerjaan?
Berapa menit untuk membaca Al-Qur’an?
Dan berapa banyak waktu yang lenyap tanpa tujuan?
Proses menilai diri seperti inilah yang disebut muhasabah.
9. Imam Al-Ghazali dan Pentingnya Muhasabah
Imam Al-Ghazali membahas muhasabah dalam Ihya’ ‘Ulumiddin. Beliau mengaitkannya dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Al-Ghazali menjelaskan pentingnya seseorang meninjau kembali amal dan perbuatannya. Muhasabah bukan sekadar merasa bersalah, melainkan melihat dengan jujur apa yang telah dilakukan, lalu memperbaiki arah sebelum terlambat.
Jika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan digital, setiap Muslim perlu menyediakan waktu untuk mengevaluasi kebiasaan menggunakan HP.
10. Coba Lakukan “Muhasabah HP” Malam Ini
Sebelum tidur malam ini, jangan hanya memeriksa:
“Berapa persen baterai HP saya?”
Periksa juga keadaan hati dan waktu Anda.
Tanyakan:
1. Berapa lama saya menggunakan HP hari ini?
2. Berapa banyak waktu yang benar-benar menghasilkan manfaat?
3. Apakah saya melewatkan atau menunda shalat karena HP?
4. Apakah saya melihat sesuatu yang haram?
5. Apakah saya membicarakan keburukan orang lain?
6. Apakah saya menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya?
7. Apakah saya menggunakan HP untuk belajar agama?
8. Apakah HP membuat saya lebih dekat dengan keluarga atau justru menjauhkan mereka?
9. Apakah saya menggunakan HP untuk mencari rezeki yang halal?
10. Jika seluruh aktivitas HP hari ini ditampilkan di hadapan Allah, apakah saya akan merasa malu?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling berat. Namun justru karena itulah ia penting untuk direnungkan.
11. Jangan Memusuhi HP, Tetapi Kendalikan HP
Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci teknologi.
Yang perlu dilakukan adalah menempatkan teknologi pada posisi yang benar.
Jangan sampai:
HP mengatur hidup kita.
Kitalah yang seharusnya mengatur HP.
Mulailah dengan aturan sederhana:
- Matikan notifikasi yang tidak penting.
- Jangan membawa HP ketika sedang shalat.
- Hindari membuka media sosial saat adzan berkumandang.
- Tentukan waktu khusus untuk membaca Al-Qur’an.
- Jangan membuka media sosial ketika sedang berbicara dengan orang tua.
- Jangan menulis komentar ketika sedang marah.
- Jangan membagikan berita sebelum melakukan tabayyun.
- Berhenti mengikuti akun yang terus-menerus menyeret hati kepada maksiat.
- Gunakan HP untuk mencari ilmu dan rezeki yang halal.
- Sisakan waktu setiap hari tanpa layar.
Tujuannya bukan menjadi orang yang anti-teknologi.
Tujuannya adalah:
menjadikan teknologi sebagai alat, bukan menjadikan diri kita sebagai budak teknologi.
12. HP-mu Bisa Menjadi Saksi Kebaikanmu
Bayangkan jika suatu hari nanti HP yang selama ini berada di tangan kita menjadi saksi kebaikan:
“Ya Allah, melalui perangkat ini dia membaca Al-Qur’an.”
“Ya Allah, melalui perangkat ini dia belajar ilmu.”
“Ya Allah, melalui perangkat ini dia membantu orang lain.”
“Ya Allah, melalui perangkat ini dia mencari nafkah untuk keluarganya.”
Betapa indahnya jika perangkat yang sering kita gunakan ternyata menjadi bagian dari amal yang menyelamatkan.
Namun jangan lupa, layar yang sama juga dapat menjadi saksi atas apa yang seharusnya tidak kita lihat, dengar, tulis, atau sebarkan.
Karena itu, pertanyaannya bukan:
“Apakah HP saya canggih?”
Melainkan:
“Untuk apa kecanggihan itu saya gunakan?”
HP bukan musuh seorang Muslim.
HP hanyalah alat.
Ia bisa menjadi sarana kebaikan, tetapi juga dapat berubah menjadi pintu kelalaian. Semua bergantung pada cara manusia menggunakannya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian ketika menyia-nyiakan waktu. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengajarkan pentingnya melakukan muhasabah sebelum tiba hari perhitungan.
Maka mulai hari ini, jangan hanya memeriksa screen time.
Periksa juga:
“Berapa banyak screen time saya yang berubah menjadi amal?”
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa bukan jumlah pengikut, banyaknya tanda suka, atau berapa jam yang kita habiskan untuk scrolling.
Yang kita bawa adalah amal.
Semoga HP yang berada di tangan kita menjadi jalan menuju kebaikan, bukan penghalang antara kita dan Allah.
اللَّهُمَّ اسْتَعْمِلْنَا فِي طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْ أَوْقَاتَنَا سَبَبًا فِي غَفْلَتِنَا عَنْكَ
Allāhumma ista’milnā fī ṭā’atika, wa lā taj’al auqātanā sababan fī ghaflatinā ‘anka.
“Ya Allah, gunakanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu dan jangan jadikan waktu-waktu kami sebagai sebab kelalaian kami dari-Mu.”
Referensi Utama
- Al-Qur’an, QS. Al-‘Ashr: 1–3.
- Al-Qur’an, QS. Al-Munafiqun: 9.
- Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 12.
- Al-Qur’an, QS. Al-Hasyr: 18.
- Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412 — hadis “dua nikmat: kesehatan dan waktu luang”; sahih.
- Riyadhus Shalihin, Muqaddimah, hadis no. 67 — “min husni islamil-mar’i tarkuhu ma la ya’nih”; dicantumkan Imam an-Nawawi sebagai hadis hasan.
- Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, no. 633 — atsar Umar bin Khattab tentang muhasabah; sanadnya disebut memiliki keterputusan.
- Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali — pembahasan muhasabah an-nafs.
- Tafsir Jalalain, tafsir QS. Al-‘Ashr.








