fbpx

ABDULLAH BIN AL-MUBARAK

Gambar. Abdulloh bin Mubarak - www.takrimulquran.org

ABDULLAH BIN AL-MUBARAK

  1. Namanya adalah Abdullah bin al Mubarak bin Wadhih al-Hanzhali at-Tamimi, maula mereka, Abu Abdurrahman al-Marwazi, al-Imam, Syaikhul Islam, alim zamannya, amir orang-orang bertakwa pada waktunya. Dari al-Abbas bin Mush’ab, dia mengatakan, “Ibunda Abdullah bin al-Mubarak adalah wanita Khuwarizmiyah dan ayahnya adalah orang turki. Dia adalah budak milik seorang pedagang dari Hamdzan dari Bani Hanzhalah. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ibnu al-Mubarak dilahirkan pada 118 H.”
  2. Dia adalah orang yang menceritakan hadits dari kitab, sedangkan orang yang menceritakan hadits dari kitab nyaris tidak ada yang terjatuh (dalam  kesalahan). Waki’ menceritakan hadits dari hafalannya, dan  dia tidak melihat dalam kitab, sehingga ada hafalan yang terjatuh (dalam kesalahan). Karya tulis Ibnu al-Mubarak diantaranya: At-Tafsir, Al-Musnad, Kitab al-Jihad, Kitab al Birr wa ash-Shilah, As-sunan, Kitab at-Tarikh Arba’in fi al-Hadits, Riqa’ al-Fatawa, Kitab az-Zuhd wayalihi ar-Raqa’iq
  3. Muhammad bin al Wazir seorang yang diberi wasiat oleh Ibnu Mubarak mengatakan, “ Kami bersama Abdullah di atas pelana, lalu kami sampai di suatu tempat pada malam hari, dari sana timbullah ketakutan. Ibnu al-Mubarak pun turun lalu mengendarai kendaraannya hingga melewati tempat itu, lalu ketika kami sampai di sungai, dia turun dari kendaraannya. Aku pun mengambil tali kekangnya, dan aku tidur (rebahan), lalu dia berwudhu dan shalat hingga terbit fajar, sedang aku memperhatikannya. Ketika telah terbit fajar, dia memanggilku dengan mengatakan, Bangunlah dan berwudhulah. Aku katakan, ‘Sesungguhnya aku masih dalam keadaan berwudhu (maksudnya aku tidak tidur sehingga tidak batal).’ Dia pun bersedih, karena aku mengetahui dia melakukan Qiyamul Lail. Dia pun tidak berbicara denganku hingga setengah hari, dan aku sampai di rumah bersamanya. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada pada zaman Ibnu al-Mubarak seorang pun yang lebih giat menuntut ilmu daripada-nya. Dia melakukan perjalanan ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah dan Kufah. Dia adalah salah seorang perawi ilmu dan ahlinya. Abu Khirasy bertanya di al-Mashishah kepada Abdullah bin al-Mubarak, “Wahai Abu Abdurrahman, hingga kapan engkau mencari ilmu? Dia menjawab, “Mungkin sampai batas kata yang berisi keselamatanku tidak aku dengar lagi.”

Baca Artikel Lainnya!

  1. Adapun tentang sifat wara’nya, maka al Hasan mengatakan, “Aku melihat di rumah Ibnu al-Mubarak burung merpati terbang, maka Ibnu al Mubarak mengatakan, ‘Dulu kami mengambil manfaat dari anak burung ini, tapi kami tidak mengambil manfaatnya sekarang. ‘ Aku bertanya, Mengapa?’ Dia menjawab, Ia bercampur dengan merpati lainnya, lalu kawin dengannya, maka kami tidak suka memanfaatkan sedikit pun dari anaknya karena hal itu. Dari Ali bin al-Hasan bin Syaqiq, dia mengatakan, “Aku mendengar Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, sungguh aku mengembalikan satu dirham karena syubhat lebih aku sukai daripada bersedekah dengan seratus ribu tambah seratus ribu hingga mencapai 700.000 dirham.
  2. Ini adalah  kata-kata mutiara darinya, dan petikan syair-syair-nya yang menunjukkan kesempurnaan akalnya dan ketinggian kedudukannya. “Barangsiapa bakhil dengan ilmu, maka dia tertimpa tiga malapetaka : Kematian, lupa, dan bergabung dengan penguasa”. Dari Abu Umayyah al-Aswad, dia mengatakan, “Aku mendengar Ibnu al-Mubarak mengatakan, ‘Aku mencintai orang-orang shalih sedangkan aku bukan termasuk golongan mereka, dan aku membenci orang-orang yang durhaka sedangkan aku lebih buruk daripada mereka.
  3. Bersama keilmuan, kezuhudan, dan kedermawanan dan ibadah-ibadahnya, maka di antara tabiatnya yang masyhur ialah jihad dan keberaniannya. Al Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdah bin Sulaiman yakni al-Marwazi, dia mengatakan, “Kami berada dalam satu pasukan detasemen bersama Abdullah bin al-Mubarak di negeri Romawi, lalu tiba-tiba kami bertemu dengan musuh. Ketika kedua barisan bertemu, seorang dari musuh keluar (dari barisan) dan mengajak perang tanding, maka keluarlah seorang kepadanya, tapi dia membunuhnya. Kemudian keluarlah yang lainnya tapi dia membunuhnya. Kemudian dia mengajak perang tanding, maka keluarlah seseorang kepadanya, lalu orang itu berhasil mengusirnya sesaat lalu dia menikam dan membunuhnya. Orang-orang pun berkerumun kepadanya, dan aku adalah salah satu dari mereka yang mengerumuninya. Ternyata dia menurupi wajahnya dengan kerah bajunya, maka aku memegang ujung kerah bajunya lalu membentangkannya, ternyata dia adalah Abdullah bin al-Mubarak. Dia mengatakan, ‘Dan engkau, wahai Abu Amr, termasuk orang yang memburukkan kami (maksudnya membongkar identitasnya, padahal dia tidak ingin dikenal).
    Al-Hasan bin ar-Rabi’ mengatakan, “Aku menyaksikan kematian Ibnu al-Mubarak, dia meninggal pada 181 H, bertepatan pada bulan Ramadhan, pada sepuluh hari yang telah lewat dari bulan tersebut”. Dia meninggal karena disihir, dan kami menguburkannya di Hait.

Wakaf Al-Qur’an untuk Pesantren, TPQ dan Masjid di Pelosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Admin
1
Chat Kami Sekarang
Assalamualaikum.. Kak, ingin berdonasi sekarang ?
Anda akan Terhubung dengan admin melalui WhatsApp