fbpx

AL–FUDHAIL BIN IYADH

Gambar. Al Fudhail bin Iyadh - www.takrimulquran.org

AL FUDHAIL BIN IYADH

  1. Nama, Nasab dan Kelahiran

Namanya al-Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud bin Bisyr at-Tamimi, al-Yarbu’i Abu Ali. Dilahirkan di Samarkand, dan tumbuh besar di Abyurd, sebuah kota di antara Sarakhs dan Nasa. Dia berkerja dan menulis di Kufah, lalu pindah ke Makkah.

  1. Kesemangatan Ibadah dan Menuntut Ilmu

Dari Ishaq bin Ibrahim ath-Thabari, dia mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengkhawatirkan dirinya, dan lebih mengharapkan kebaikan bagi orang lain dari pada al-Fudhail. Bacaannya sangat menyedihkan, sangat menginginkan, pelan, tartil, seakan-akan dia bercakap-cakap dengan seseorang. Jika dia melewati sebuah ayat yang menyebutkan surga, maka dia mengulang-ulanginya dan memohon (kepada Alloh). Shalatnya pada malam hari lebih banyak dilakukan dalam  keadaan duduk. Dia menaruh tikar di tempat shalatnya, lalu dia shalat dari awal malam sesaat, kemudian ketika matanya mengantuk, dia merebahkan dirinya di atas tikar lalu tidur sejenak, kemudian bangun lagi. Jika dia mengantuk dia tidur, kemudian bangun. Demikianlah hingga subuh.

Baca Artikel Lainnya!

  1. Akhlak, Zuhud, Wara’ dan Sabar

Ibnu Sa’ad mengatakan, “Dia adalah tsiqah, memiliki keutamaan, ahli ibadah, wara’, banyak hadits. Ibrahim bin Syammas meriwayatkan dari Ibnu al-Mubarak, dia mengatakan, “Tidak tersisa lagi di muka bumi ini seorang pun, menurutku, yang lebih utama daripada al-Fudhail bin Iyadh. Dari Ibrahim al-Asy’ats, dia mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di mana Alloh lebih besar di dadanya (selain) dari al-Fudhail bin Iyadh. Apabila dia mengingat Alloh, atau Nama Alloh disebut di sisinya, atau mendegar al-Qur’an, maka ketakutan dan kesedihan tampak padanya, serta kedua matanya mengalirkan air mata, hingga orang-orang yang hadir di sisinya berbelas kasih kepadanya. Dia senantiasa bersedih, sangat berpikir keras. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang menginginkan Alloh dengan ilmunya, amalnya, sesuatu yang diambilnya, sesuatu yang diberikannya, sesuatu yang dihalanginya, pengorbanannya, kebenciannya, cintanya, semua ciri-cirinya selain dirinya.” Dia mengatakan juga tentangnya, “Apabila kami keluar bersama al-Fudhail untuk mengantar jenazah, maka dia tidak henti-hentinya memberi nasihat dan memberi pelajaran serta menangis, seakan-akan dia melepas kepergian sahabatnya pergi menuju akhirat hingga sampai di pekuburan. Lalu dia duduk seakan-akan berada di tengah-tengah orang yang mati. Dia duduk karena kesedihan dan tangisan hingga berdiri, seakan-akan dia kembali dari akhirat untuk mengabarkan tentang kehidupan di sana.

  1. Nasihat dan Kata-kata Mutiara

Dari Ibrahim bin al-Asy’ats, Aku mendengar al-Fudhail mengatakan, “Orang yang paling dusta ialah orang yang kembali kepada dosanya, orang yang paling jahil ialah orang yang menunjukkan kebaikan-kebaikannya, dan orang yang paling tahu tentang Alloh ialah orang yang paling takut kepada-Nya. Seseorang hamba tidak akan sempurna hingga dia lebih mendahulukan agamanya daripada syahwatnya, dan hamba tidak akan binasa hingga dia lebih mendahulukan syahwatnya daripada agamanya. Dari Muhammad bin Thufail, dia mengatakan, Aku mendengar al Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Kesedihan dunia akan menghilangkan kesedihan akhirat, dan kegembiraan dunia akan menghilangkan kemanisan ibadah.”

  1. Wafat

Mujahid bin Musa mengatakan, “Al-Fudhail meninggal pada 186 H.” Sedangkan menurut Abu Ubaid, Ali bin al-Madini, Ibnu Ma’in, Ibnu Numair, al-Bukhari dan selainnya, “Dia meninggal pada 187 H.” Sebagian dari mereka menambahkan, “Pada awal Muharram.” Adz-Dzahabi mengatakan, “Dia meninggal dalam usia 83-89 tahun.

Wakaf Al-Qur’an untuk Pesantren, TPQ dan Masjid di Pelosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Admin
1
Chat Kami Sekarang
Assalamualaikum.. Kak, ingin berdonasi sekarang ?
Anda akan Terhubung dengan admin melalui WhatsApp