Artikel Al-Quran Archives - Laman 2 dari 7 - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

PERSIAPAN MENJELANG RAMADHAN

Untuk dapat teraihnya berbagai keistimewaan, keutamaan dan fadhilah yang ada di bulan Ramadhan, maka sangat penting untuk dilakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya:

1. Persiapan ma’nawiyah (spiritual)

 

Persiapan ma’nawiyah bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah sebelum Ramadhan tiba, seperti memperbanyak puasa sunnah, membaca Al Qur’an, berdo’a, berdzikir dan lain-lain.

 

Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri menghadapi datangnya bulan suci tersebut telah memberikan contoh kepada umatnya, diantaranya dengan memperbanyak puasa sunnah  di  bulan  Sya’ban,  sebagaimana  diriwayatkan  ‘Aisyah  ra  dalam  hadits  yang

diriwayatkan Bukhari dan Muslim:

Artinya:  Dan  aku  tidak  melihat  Rasulullah  –  shallallahu  ‘alahi  wasallam  –  berpuasa disuatu bulan yang lebih banyak dari pada puasanya di bulan Sya’ban “  bahkan beliau

‘Aisyah juga mengatakan  :

Artinya: Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – tidak pernah berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dari pada puasa di bulan Sya’ban, sesungguhnya beliau puasa satu bulan penuh

2. Persiapan fikriyah (akal)

 

Persiapan fikriyah dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan  dengan  ibadah Ramadhan, dan  lebih khusus lagi  ilmu  yang terkait dengan puasa, agar memiliki wawasan yang benar tentang Ramadhan dan puasa Ramadhan, hingga nantinya ketika menjalani ibadah Ramadhan dapat melakukannya dengan optimal dan dapat meraih hasil yang maksimal.

3. Persiapan jasadiyah (fisik) dan maliyah (materi)

 

Persiapan jasadiyah dapat dilakukan menjaga kesehatan, diantaranya dengan cara berolahraga, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, dan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat dan menyehatkan. Ini penting karena rangkaian ibadah yang telah terformat selama Ramadhan hanya akan bisa dilaksanakan dengan optimal oleh orang yang mempunyai kesehatan prima. Adapun persiapan maliyah bisa dilakukan dengan menabung sebagian harta kita sebagai bekal berinfaq selama Ramadhan.

 

Definisi dan Hikmah Puasa

Related image Secara bahasa Shaum (puasa) bermakna “imsaak” yaitu menahan. Secara istilah syar’i maka puasa adalah beribadah kepada Allah subahanahu wata’ala dengan cara menahan diri dari makan, minum dan dari segala yang membatalkannya, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Niat puasa tempatnya adalah dalam hati, tidak boleh melafalkan niat ini secara lisan, sebab melafalkannya secara lisan adalah perkara bid’ah. Niat ini boleh diniatkan pada waktu kapanpun dalam malam hari itu, walaupun sudah dekat waktu fajar. Ketentua

puasa wajib adalah wajib berniat puasa sebelum fajar. Tentang sifat niat ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah  menyatakan:   “Setiap  orang  yang  tahu  bahwa keesokan harinya adalah awal Ramadhan dan ia (dalam hatinya) berkeinginan untuk berpuasa besoknya, maka sudah dianggap sebagai niat, dan ini merupakan amalan seluruh kaum muslimin”.

Adapun puasa sunat maka boleh diniatkan sebelum waktu zawal (yaitu waktu dimana matahari tepat berada ditengah langit = sekitar 15 menit sebelum azan zuhur) dengan syarat pada pagi hari itu anda belum makan/minum (sejak fajar), sebagaimana yang sering dilakukan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Adapun puasa sunat yang dikhususkan pada waktu tertentu seperti puasa hari Asyura atau  puasa Arafah  maka  sebagian  ulama  mensyaratkan  agar  berniat  pada  malam harinya sebelum fajar.

 

Manfaat dan Hikmah Puasa

Ibadah puasa yang disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah ta’ala atas hamba-hamba- Nya memiliki hikmah yang agung dan manfaat yang banyak, diantaranya:

1.Ia  merupakan  ibadah  yang  dilakukan  seorang  hamba  untuk  mendekatkan  diri kepada Rabbnya dengan cara meninggalkan perkara yang ia sukai dan gemari secara fitrah,  berupa  makan,  minum,  ataupun  berhubungan  suami  istri,  semua  itu  ia tinggalkan demi meraih ridha Rabbnya dan mendapatkan surga-Nya. Dengan ibadah ini, jelaslah bahwa seorang hamba yang berpuasa ternyata lebih memprioritaskan kecintaan Allah ta’ala daripada kecintaan dirinya, dan juga lebih mementingkan kampung akhirat daripada kampung dunia.

2.Ia merupakan ibadah yang menjadi faktor adanya taqwa dalam diri seorang hamba bila  ia  melaksanakan  kewajiban-kewajiban  puasa  secara  sempurna,  sebagaimana dalam firman-Nya:   Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (QS.Al Baqarah : 183)

Jadi, orang yang berpuasa sangat diperintahkan untuk mewujudkan sifat taqwa ini dalam dirinya, yaitu dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan inilah tujuan utama dari ibadah puasa, dan bukan bermaksud untuk menyiksa orang puasa dengan memaksanya meninggalkan makan, minum dan berhubungan suami istri. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapapan dusta, perbuatan dusta

dan perbuatan maksiat, maka Allah tidak perduli dengan ia meninggalkan makan dan minumnya “.(HR. Bukari)

3.Dengan berpuasa, seorang yang kaya akan tahu kadar nikmat Allah yang dianugerahkan atasnya, yang mana Allah telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa-apa yang ia inginkan, berupa makan, minum, atau berhubungan suami istri yang dibolehkan Allah secara syar’i. Dengan puasa ini, ia akan bersyukur kepada Rabbnya akan adanya nikmat dan karunia ini, dan mengingat saudara- saudaranya yang miskin yang mana mereka sangat sulit untuk mendapatkan nikmat dan karunia seperti dirinya, sehingga iapun tergerak untuk memberikan mereka sedekah dan harta yang ia miliki.

4.Puasa melatih diri untuk membatasi jiwa (dari syahwat) dan menguasainya agar ia bisa mengontrol dan mengarahkan jiwanya pada amalan yang berbuah kebaikan dan kebahagiaan didunia dan akhirat, serta membuat dirinya terjauhkan dari sifat binatang yang tidak bisa mengontrol dan menahan dirinya dari hawa nafsu.

5.Puasa  bisa  membuat  seseorang  sehat  jasmani  dikarenakan  sikap  tidak  banyak makan,   mengistrahatkan kerja system pencernaan dalam jeda waktu tertentu, dan keluarnya semua tinja dan  kotoran  yang  berbahaya bagi tubuh  dari dalam perut. (Dinukil dari Kitab Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah: Fushuul Fi Al-Shiyaam).

*E-book Tuntunan Ramadhan

Perbedaan Cetakan Arab dan Cetakan Indonesia

Ternyata ada banyak perbedaan antara cetakan Arab dan Indonesia, walaupun hal ini bukan berarti merubah makna dan substansi yang terdapat di al-Quran.

Berikut perbedaan antara tanda baca dari Al-Qur’an cetakan Arab dan Indonesia disertai dengan perbandingan dari keduanya. Contoh sebelah atas menunjukkan cetakan Arab dan sebelah bawah adalah cetakan Indonesia.

#Tanda yang mirip dengan bulan sabit

Tanda bulan sabit di atas huruf tersebut menunjukkan sukun yang dibaca izhhar. Contoh:

#Huruf wawu dan ya’ tanpa harakat

Kalau ada wawu dan ya’ yang tidak ada harakatnya berarti itu hukum mad. Jika Al-Qur’an Indonesia terdapat sukun. Contoh:

#Tidak adanya harakat dengan tasydid huruf setelahnya

hal ini disebut dengan idgham kamil. Idgham kamil itu meleburkan huruf ke huruf yang setelahnya baik makhraj maupun sifatnya. Contoh:

sedangkan Al-Qur’an Indonesia terdapat sukun.

#Tanpa harakat dengan tidak ada tasydid huruf setelahnya Menunjukkan ikhfa dan idgham naqish. Idgham naqish itu meleburnya huruf dalam makhraj namun sifatnya masih ada. Contoh:

#Tanwin sejajar

ini menunjukkan hukum izhhar. Contoh:

#Tanwin Yang Berjenjang

Apabila huruf setelahnya bertasydid itu menunjukkan adanya hukum idgham kamil. Contoh:

Dan apabila huruf setelah tanwin yang berjenjang tidak terdapat tasydid itu menunjukkan adanya hukum idgham naqish atau ikhfa’. Contoh:

 

#Mim Kecil (ekornya ke bawah)

Mim kecil yang terdapat di atas nun mati atau di samping harakat menunjukkan hukum iqlab. Ketika iqlab, sedangkan di Indonesia ditulis dengan tanwin adapun cetakan Arab menggunakan harakat tunggal. Contoh:

 

#Huruf Kecil

Menunjukkan huruf yang ada dalam bacaan namun tidak didapati dalam tulisan. sedangkan Al-Qur’an Indonesia tidak ditulis sama sekali namun dibedakan dari bentuk harakatnya. Contoh:

#Huruf Sin Di Atas Shad

hal ini menunjukkan shad tersebut dibaca sin dalam qiraat Hafsh. Contoh:

#Huruf Sin Di Bawah Shad

Berarti shad tersebut bisa dibaca shad atau sin namun lebih masyhur dilafalkan dengan shad. Contoh:

#Titik Besar

Menunjukkan bacaan imalah, isymam, dan tashil.

#Huruf Sin Di Akhir Kata/Kalimat

Menunjukkan saktah. Contoh:

#Mad Badal

#Huruf Ya’ Tanpa Titik

Dalam Al-Qur’an cetakan Madinah, huruf ya’ yang berada di ujung kata ditulis tanpa titik.

#Penulisan Hamzah

Dalam menulis hamzah qatha yang berbentuk alif, maka disertakan bentuk hamzahnya.

Sedangkan hamzah washal ditulis dengan menambahkan kepala shad diatas alif/hamzah.

#Penulisan Nun Kecil

Huruf nun kecil berguna sebagai penyambung antara tanwin dengan huruf sukun. Jika di Al-Qur’an cetakan Arab ditulis biasa. Contoh:

 

#Tanda Lonjong/Oval

Di atas alif berarti dibaca ketika waqaf dan tidak dibaca ketika washal. Contoh:

#Al-Jin ayat 16

Perbedaannya pada huruf nun, di Al-Qur’an Arab dihilangkan huruf nunnya.

#Al-Anbiya’ 88

Perbedaannya pada huruf nun, di Al-Qur’an Arab menggunakan nun kecil

#Penempatan Tanda Waqaf

Penempatan tanda waqaf juga berbeda. Contoh di surat An-Nashr

Kalau cetakan Indonesia seperti ini:

*https://hahuwa.blogspot.co.id

10 Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Ramadhan

Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan yang paling dinantikan oleh orang – orang mukmin, kepergian bulan Ramadhan jauh lebih disesalkan daripada kepulangan seorang tamu mulia yang berlalu pergi. Tak heran bilamana para salaf dahulu berdoa jauh – jauh hari sebelum Ramadhan datang :

” Yaa Allah, pertemukanlah aku dengan Ramadhan, dan pertemukanlah Ramadhan denganku, dan jadikan amal ibadahku pada bulan mulia itu diterima disisi Mu “

Sekilas kita bertanya – tanya, ” apa sih keutamaan bulan Ramadhan dibandingkan bulan – bulan yang lain ? ” dalam postingan kali ini, akan kami sebutkan sedikitnya sepuluh keutamaan bulan Ramadhan, meskipun sebenarnya banyak sekali keutamaan bulan yang mulia ini yang telah disebutkan oleh para ulama. Yang kami harapkan bisa bermanfaat bagi kita semua.

1 – Al Qur’an Diturunkan Pada Bulan Ramadhan

Allah ta’ala berfirman :
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan ) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang hak dan yang bathil )“ ( Al Baqarah : 185 )

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ( Allah ta’ala memuji bulan bulan Puasa diantara bulan – bulan lainnya, dengan memilih bulan tersebut ( sebagai waktu ) diturunkannya Al Qur’an ) lihat Tafsir Ibnu Katsir 1 / 282

“Karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir ( di negeri tempat tinggalnya ) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan ( lalu ia berbuka ), Maka ( wajiblah baginya berpuasa ), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur “ ( Al Baqarah : 185 )

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah berkata ( dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan 2 keutamaan bulan Ramadhan: ……………. Yang kedua adalah dengan diwajibkannya puasa Ramadhan atas umat ini, sebagaimana firman Allah “ karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir ( di negeri tempat tinggalnya ) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, “ ) lihat ithaaful Iman bi Duruus Syahri Ramadhan hal. 15

3. Pintu Langit Dibuka Sedangkan Pintu – Pintu Neraka Ditutup

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب السماء و غلقت أبواب جهنم و سلسلت الشياطين

“Apabila telah datang bulan Ramadhan, pintu – pintu langit dibuka, sedangkan pintu – pintu neraka akan ditutup, dan setan dibelenggu“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

4. Diampuninya Dosa – Dosa Di Bulan Itu

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

Dalam hadits lain beliau bersabda :

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له

“Celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian melaluinya sedangkan dosanya belum diampuni “ ( diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad )

5. Dilipat Gandakan Pahala Pada Bulan Ramadhan

Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda :

عمرة في رمضان تعدل حجة

“Pahala umrah pada bulan Ramadhan menyamai pahala ibadah haji“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ), Dalam riwayat Muslim disebutkan “……..menyamai pahala ibadah haji bersamaku“

Ibnu Rajab rahimahullah berkata ( Abu Bakr bin Abi Maryam menyebutkan bahwa banyak guru – gurunya yang berkata : apabila telah dating bulan Ramadhan maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq pada bulan Ramadhan dilipat gandakan bagaikan infaq fi sabilillah, dan tasbih pada bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain )

6. Lailatul Qadr Ada Di Bulan Ramadhan

Lailatul Qadr ( malam kemuliaan ) adalah suatu malam yang ada pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, yang mana malam tersebut memiliki banyak sekali barakah dan kemuliaan, bahkan satu malam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar“ ( Al Qadr : 1-5 )

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إن هذا الشهر قد حضركم و فيه ليلة خير من ألف شهر من حرمها فقد حرم الخير كله

“Sesungguhnya bulan (Ramadhan) telah dating kepada kalian, di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang tidak mendapatinya maka ia telah kehilangan banyak sekali kebaikan“ ( diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Mundziry )

7. Disyareatkannya I’tikaf Di Bulan Ramadhan

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa “ ( Al Baqarah : 187 )
Anas radhiallahu anhu berkata :

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai beliau wafat, kemudian istri – istri beliau pun beri’tikaf setelahnya“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

8. Puasa Ramadhan Salah Satu Sebab Masuk Surga

Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ada dua orang dari bani Qudha’ah yang masuk islam, kemudian salah seorang dari mereka mati syahid, sementara yang satunya wafat setahun kemudian, salah seorang sahabat bernama Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu anhu berkata : aku bermimpi melihat surga, lalu aku melihat orang yang wafat setahun kemudian tersebut masuk surga sebelum orang yang mati syahid, akupun terheran – heran, maka tatkala pagi hari aku memberitahu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliaupun bersabda :

أليس قد صام بعده رمضان و صلى ستة آلاف أو كذا و كذا رعكة صلاة سنة

“Bukankah setelah itu ( dalam waktu setahun ) ia berpuasa Ramadhan, shalat enam ribu rakaat atau shalat sunnah beberapa rakaat?“ ( diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Albani )

9. Bulan Ramadhan Bulan Ibadah Dan Amal Kebaikan

Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda :

من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berdiri shalat pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa – dosanya yang telah lalu“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim )

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malam Ramadhan, dan membangunkan keluarganya.

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi apabila datang bulan Ramadhan.

10. Bulan Ramadhan Adalah Bulan Penuh Berkah, Rahmat, Dan Mustajabnya Doa

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أتاكم رمضان شهر مبارك

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah“ ( diriwayatkan oleh An Nasai dan dishahihkan oleh Albani )

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الرحمة و غلقت أبواب جهنم و سلسلت الشياطين

“Apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu – pintu rahmat, sedangkan pintu – pintu neraka jahannam ditutup, dan setanpun dibelenggu“ ( diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Muslim )

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إن لكل مسلم في كل يوم و ليلة – يعني في رمضان – دعوة مستجابة

“Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam hari – pada bulan Ramadhan – memiliki doa yang mustajab“ ( diriwayatkan oleh Al Bazzar dan dishahihkan oleh Albani )

Demikian sedikit informasi mengenai keutamaan bulan romadhon yang bisa kami sajikan. Semoga amal ibadah kami diterima. Amin

*dari berbagai sumber

Menyambut kedatangan Tamu Mulia (Bulan Romadhon)

Tidak terasa kita akan bertemu dengan tamu istimewa dan mulia, tamu yang sangat diharapkan kedatangannya oleh orang-orang yang beriman, tamu yang dengan sebabnya dosa-dosa kita bisa dileburkan, tamu yang menawarkan pahal-pahala yang berlimpah dengan izin Alloh inilah dia bulan romadhon, yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan, di bulan inilah pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, bulan dimana syaiton dibelenggu.

Bulan ini seharusnya dijadikan kesempatan emas bagi kaum muslim yang selama ini bergelimang dosa dan miskin akan pahala, dan alangkah baiknya kita menyambut bulan romadhon ini dengan pembekalan ruhani dan pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan romadhon agar kita bisa mantap dalam memaksimalkan ibadah di bulan yang mulia ini.

Diantara bekal-bekal yang harus dimiliki dalam menyongsong bulan mulia ini adalah

  1. Mempersiapkan persepsi yang benar tentang bulan Ramadhan

Untuk memberikan motivasi beribadah di bulan Ramadhan dengan optimal, sebelum Ramadhan datang Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabatnya guna memberikan persepsi yang benar dan mengingatkan betapa mulianya bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang panjang Rasulullah SAW bersabda:

Dari Salman ra. Beliau berkata: Rasulullah berkhutbah ditengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, Rasulullah bersabda: Hai manusia, telah menjelang kepada kalian bulan yang sangatagung, penuh dengan barakah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana Allah SWT telah menjadikan puasa didalamnya sebagai puasa wajib, qiyamullailnya sunnah, barangsiapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan amalan wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya dst. (HR. Ibnu Huzaimah, beliau berkata: hadits ini adalah hadits shahih)

  1. Membekali diri dengan ilmu yang cukup

Sasaran dari ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Untuk itu, ibadah puasa harus dilakukan dengan tatacara yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar. Dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali begadang. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).
Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah SWT tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari)
Dari dua hadits di atas bisa disimpulkan bahwa membekali diri dengan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa Ramadhan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kita melalui bulan Ramadhan yang mulia ini.

  1. Melakukan persiapan jasmani dan ruhani

Sebelum masuk bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar banyak melakukan ibadah puasa di bulan Sya’ban. Dengan berpuasa di bulan Sya’ban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah maupun jasadiah. Kondisi ini akan sangat positif pengaruhnya dan akan mengantarkan kita dalam menyambut Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amalan yang disunnahkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian terlalu lama seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kali berpuasa, misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyak mengeluh, dsb

  1. Memahami keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan diciptakan Allah SWT penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Maka mempelajari dan memahami keutamaan dan kemuliaan tersebut akan memotifasi kita untuk lebih meningkatkan amal ibadah kita. Diantara keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan adalah :

  1. Bulan kaderisasi taqwa dan bulan diturunkannya Al Qur’an
    Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agarkamu bertaqwa, (QS:AI-Baqarah:183)
Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan AI-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang hak dan yang bathil) maka barang siapa mendapatkannya hendaklah iapuasa. (QS:AI-Baqarah:185)

  1. Bulan paling utama, bulan penuh berkah

Rasulullah SAW bersabda:
Bulan paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling mulia adalah hari Jum’at.
Dari Ubaidah bin Sharnit, bahwa ketika Ramadhan tiba. Rasulullah bersabda: Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah SWT akan memberikan naungan~Nya kepada kalian, Dia turunkan rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah SWT akan melihat kalian berlomba melakukan kebaikan. Allah SWT akan membanggakan kalian di depan Malaikat. Maka perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah SWT, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmatAllah SWT. (HR. Tabrani).

  1. Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan

Rasulullah SAW bersabda:
Antara shalat lima waktu, dari hari jum’at sampai jum’at lagi, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa-dosa kecil apabila dosa-dosa besar dihindarkan. (HR. Muslim)
Barang siapa puasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah SLVT ia akan diampuni semua dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari-Muslim)

Apabila bulan Ramadhan telah datang pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Bulan dilipatgandakannya pahala amalshalih

Rasulullah SAW bersabda:
Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampal tujuh ratus kali lipat, Allah SWTberfirman: “Kecualipuasa, puasa itu untuk Ku dan Akulah yang akan membalasnya. la tinggaikan nafsu syahwat dan makanannya semata-mata karena Aku”. Orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan ketika berbuka, dan ketika berjumpa Rabb-nya. Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah SWTIebih wangi daripada bau parfum misik.” (HR. Muslim)
Rabb-mu berkata: “Setiap perbuatan baik (di bulan Ramadhan) dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai dari api neraka, bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah SWT lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang diantara kamu yang sedang berpuasa, maka hendaklah kamu katakan: “Saya sedang puasa.” (HR. Tirmidzi)

  1. Bulan jihad dan kemenangan
    Sejarah telah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih ummat Islam. Ini membuktikan bahwa bulan Ramadhan bukan merupakan bulan malas dan bulan lemah, tapi bulan Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan.
    Perang Badar yang diabadikan dalam AI-Qur’an sebagai “Yaumul Furqan”, ummat Islam meraih kemenangan besar pada tanggal 17 Ramadhan tahun 10 Hijriyah dan saat itu juga gembong kebathilan Abu Jahal terbunuh. Pada bulan Ramadhan, Fathu Makkah(pembebasan kota Makkah) yang diabadikan oleh AI-Qur’an sebagai “Fathan Mubina”, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah.
    Perang “Ain Jalut” menaklukan tentara Mongol terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 25 Ramadhan 658 Hijriah. Andalusia(Spanyol) ditaklukan oleh tentara Islam dibawah pimpinan Tariq bin Ziyad juga terjadi pada bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan 92 Hijriah.

*dari berbagai sumber

Sebab Terjadinya Futur

Futur adalah penyakit hati yang perlu disembuhkan, karena dengan futur akan terhalanglah segala aktivitas ibadah yang biasa kita amalkan. Bukan sekedar itu futur bisa dikatakan sarangnya penyakit dari situlah muncul kemalasan-kemalasan yang pada ujungnya akan membuat rugi orang yang terjangkiti dengan penyakit ini.

Futur berasal dari kata فتر-يفتر-فتورا  yang artinya berkurang surut, layu, lemah. Dalam kitab Lisanul-Arob (Ibnu Mandzur 5/43), kata Fatara mengandung pengertian; ‘sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat’ atau ‘melemah setelah sebelumnya kuat’.

Sedangkan dalam arti istilah yaitu, suatu penyakit yang dapat menimpa sebagian kaum muslimin atau sebagian aktivis, bahkan menimpa mereka secara praktikal (perbuatan). Tingkatannya yang paling rendah berupa kemalasan, menunda-nunda atau berlambat-lambat. Puncaknya ialah terputus atau berhenti sama sekali sebelumnya rajin dan terus bergerak.

Iman seseorang berkurang dan bertambah, bertambah dengan keimanan dan berkurang dengan kemaksiatan, ini menunjukkan bahwa futur memiliki sebab sebab tersendiri diantaranya adalah, sebab yang paling utama yaitu bersikap tengah-tengah dalam beramal sholeh, karena membebani suatu hal yang melebihi kemampuan diri akan membuat diri itu menjadi terputus dalam beramal.

 

Rasulpun pernah memarahi orang yang mengharamkan daging, wanita, dan tidur bagi dirinya sendiri dengan sabdanya : “akan binasa orang-orang yang memberatkan diri” (HR.Muslim), sebagaimana ia bersabda : “Barang siapa yang tidak suka ajaranku maka ia bukan termasuk golonganku”.  (HR.Bukhori).

Dalam Sabdanya yang lain : “Ambillah dari amalan-amalan, apa yang kamu mampu dan kuat (untuk mengerjakannya), sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan” (HR.Bukhori).

 

 

Manejemen waktu merupakan unsur  penting untuk mengatasi futur. Dalam artian ada waktu untuk Ibadah, mencari rizki, belajar, menunaikan hak-hak orang lain, juga birrul walidain. Tak kalah penting pula refreshing diri dengan hal-hal yang halal merupakan hal yang diperlukan untuk keberlangsungan kekuatan iman. Karena jiwa ataupun diri, bercelah untuk merasa capek atau bosan jika ia selalu beraktifitas. Tetapi jika aktifitas-aktifitas yang ada terorganisir dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang baik bagi keterbolak-baliknya sikon iman ini, bahkan kemungkinan anda akan melihat diri sendiri merasa rindu untuk melakukan aktifitas baik ibadah atau refreshing diri sebelum waktunya datang.

 

Sebagaimana saya anjurkan bagi tiap-tiap jiwa yang sedang futur untuk “tanwii’” (memperbanyak macam) dalam beramal sholih : tidak hanya puasa terus misalnya, atau sholat terus, tetapi antara sholat, puasa, dan semua amal sholih lainnya. Karena seseorang jika berada pada satu ibadah saja, dan monoton, maka akan terserang futur.

 

Sedangkan futur  merupakan tanda-tanda adanya biji keimanan dalam hati ukhti, dan saya mohon kepada Allah untuk selalu memberikan hidayah-Nya kepada ukhti dan menjadikan biji tersebut tumbuh subur. Hati ini memang sifatnya berbolak-balik, karenanya ia dinamakan dengan hati (qolbu), Rasulullah menyifatinya ibarat bulu yang menggantung di pohon, ia akan dibolak-balikkan angin. (HR. Ahmad). Sehingga Rasulullah mengajurkan kepada kita untuk senantiasa berdoa :

 

اللهم يا مقلب القلوب  ثبت قلبي على دينك 

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati dan mata, tetapkan hatiku selalu dalam agamamu.

 

*dari berbagai sumber

Bakti kepada Kedua Orang Tua

Birrul Walidain adalah sebuah sikap yang setiap anak sholih harus mempraktikannya, bahkan dalam sebuah ayat bahwa berkata “ah” atau yang sejenisnya sangat dilarang dalam Islam. Ini menunjukkan betapa Islam mengagungkan kedudukan mereka berdua di hadapan anaknya. Salah satu implementasi birrul walidain (berbuat baik) adalah mendoakan keduanya baik mereka masih ada atau telah tiada.

Bahkan Islam pun memerintahkan kita berbuat baik kepada kedua orang tua yang berstatus musyrik atau kafir. Ibu dan Bapak sebagai orang tua sudah selayaknya mendapatkan kebaikan dan penghormatan dari anaknya. Islam sangat perhatian mengenai masalah ini. Bahkan Alloh sandingkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua ini dengan perintah larangan berbuat syirik atau menyekutukan Allah Ta’ala.

“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (An Nisa’ : 36).

Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra’: 23).

Adapun makna ( qadhoo )  Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: “Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).

Bahkan sebuah hadits menyatakan bahwa ridho Alloh Ta’ala bergantung kepada ridhonya  orang tua kita.

Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”  (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

 

Hadits Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”.  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

Sebenarnya masih banyak sekali dalil-dalil yang berkaitan dengan birrul walidain, ternyata dengan berbuat baik kepada kedua orang tua didalamnya terdapat keutamaan-keutamaan yang agung.

Termasuk Amalan Yang Paling Mulia

Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sholat tepat pada waktunya”, Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Berjihad di jalan Allah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

 

  1. Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al Ahqaf 15-16)

 

Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apakah Ibumu masih hidup?”, berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Kalau bibimu masih ada?”, dia berkata : “Ya” . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Berbuat baiklah padanya”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

 

  1. Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga

Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)

 

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia : “Ya”. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

 

  1. Merupakan Sebab keridhoan Allah

Sebagaiman hadits yang terdahulu “Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua”.

 

  1. Merupakan Sebab Bertambahnya Umur

Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.

 

  1. Merupakan Sebab Barokahnya Rizki

 

Adapun bentuk perbutan baik kepada kedua orang tua adalah mentaati segala perintahnya kecuali untuk berbuat maksiat,  Berbakti dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua, Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka, Alloh Ta’ala berfirman,

“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)

Lalu menyediakan makanan untuk mereka, Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya

 

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad)

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk ketaatan kepada kedua orang tua, akhir kata mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang selalu mempraktikan birrul walidain dan termasuk orang-orang yang diridhoi oleh Alloh dengan sebab amalan tersebut.

آمين يا رب العالمين

*dari berbagai sumber

LGBT adalah Fahisyah (keji dan hina)

Saat ini sedang marak fenomena LGBT (LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbiangaybiseksual, dan transgender“. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan) di tanah air tercinta ini, tentu ini adalah sebuah musibah yang besar bukan hanya untuk kalangan muslim saja tetapi kalangan orang yang menganggap dirinya manusia dan kabar yang sangat menyedihkan adalah “dilegalkannya” gerakan LGBT di Indonesia oleh menteri “agama”. Ini adalah sebuah problema yang serius dengan dilegalkannya LGBT, kita tidak bisa membayangkan mau dibawa kemana negri ini.

Khawatir Alloh Ta’ala murka akan kelakuan manusia-manusia yang tidak bersyukur dengan fitroh yang diberikan oleh Alloh Ta’ala dan kita pun terkena imbasnya. Hewan saja mengerti mana lawan jenis dan mana yang bukan.

Fenomena ini bukanlah fenomena yang baru terjadi, bahkan fenomena ini telah terjadi  ketika zaman Nabi Luth. Dimana pada saat itu kaum luth terpesona oleh rayuan setan dan terjerumus kepada perbuatan yang sangat keji.

Alloh Ta’ala abadikan kisah ini agar manusia bisa mengambil ibroh darinya. Alloh Ta’ala berfirman,

Allah Ta’ala berfirman :

{وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ}

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” (Al-A’raaf: 80).

Dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan sodomi antar sesama pria, yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam, merupakan perbuatan fahisyah.

Sedangkan fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.

Hal ini sebagaimana penafsiran ahli tafsir, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah, ketika beliau menjelaskan fahisyah dalam ayat ini,

الخصلة التي بلغت – في العظم والشناعة – إلى أن استغرقت أنواع الفحش

Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya!”. (Tafsir As-Sa’di)

Dan para ulamapun sepakat bahwa liwath adalah perbuatan yang dihukumi haram,

أجمع أهل العلم على تحريم اللواط ، وقد ذمه الله تعالى في كتابه ، وعاب من فعله ، وذمه رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ulama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya”.

Alloh Ta’ala telah mengazab para kaum liwath,

Allah Ta’ala berfirman :

{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. [Al-A’raaf: 80].

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala sebut kaum Nabi Luth ‘alaihis salam yang melakukan perbuatan sodomi tersebut dengan sebutan “para pelaku kriminal”!

Itulah beberapa paparan singkat mengenai buruknya perilaku LGBT dan akibatnya, mudah-mudahan kita selalu dijaga dan menjaga fitroh kita sehingga kita terhindar dari perilaku yang keji dan hina itu.

Wallohu’alam bish showab…

*dari berbagai sumber.

Berbaik Sangka Kunci Ketenangan dalam Hidup

Husnudzon adalah salah satu dari banyaknya ibadah hati yang semestinya sudah menjadi perhiasan bagi hati kaum muslimin, Husnu dzon adalah lawan dari kata su’u dzon (berburuk sangka). Husnu dzon atau berbaik sangka adalah ibadah hati yang harus dilatih karena kita sebagai manusia biasa pasti tidak terlepas dari kesalahan dan tergelincir kepada prasangka yang buruk.
Yang paling utama adalah Husnudzon kepada Alloh SWT, artinya adalah kita meyakini akan asma dan sifat Alloh SWT yang mulia, contohnya adalah ketika kita yakin akan rahmat dan ampunan Alloh SWT yang akan selalu diberikan kepada hamba-hambanya yang bertaubat.
Disini akan dipaparkan pengertian husnu dzon menurut pandangan ahlussunnah wal jama’ah berdasarkan pemahaman para salaf.
وقد تبين الفرق بين حسن الظن والغرور ، وأن حسن الظن إن حمَل على العمل وحث عليه وساعده وساق إليه : فهو صحيح ، وإندعا إلى البطالة والانهماك في المعاصي : فهو غرور ، وحسن الظن هو الرجاء ، فمن كان رجاؤه جاذباً له على الطاعة زاجراً لهعن
المعصية : فهو رجاء صحيح ، ومن كانت بطالته رجاء ورجاؤه بطالة وتفريطاً : فهو المغرور

“Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur (tipuan). Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal, membantu dan membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas dan berkubang dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah raja’ (pengharapan). Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat dan menjauhkannya dari maksiat: maka ia pengharapan yang benar. Sedangkan siapa yang kemalasannya adalah raja’ dan meremehkan perintah: maka ia tertipu.” (Al-Jawab al-Kaafi: 24)

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Berhusnuzan kepada Allah harus disertai dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Jika tidak, ia termasuk merasa aman dari siksa Allah. Oleh sebab itu, behusnudzan kepada Allah harus disertai melaksanakan sebab-sebab kebaikan yang jelas dan mejauhi semua sebab yang menghantarkan kepada keburukan: Ini merupakan pengharapan yang terpuji. Adapun husnudzan kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan menerjang keharaman: maka ia pengharapan yang tercela, itu termasuk bentuk merasa aman dari adzab Allah.” (Al-Muntaqa’ min Fatawa Al-Syaikh al-fauzan: 2/269)

Dengan ini berarti bahwa husnudzon kepada Alloh SWT tanpa disertai dengan amal hanyalah sebuah tipu daya yang membuatnya terlena hingga masuk kejurang kesesatan seperti halnya kaum murji’ah dan mereka mersa aman akan siksa Alloh SWT.

Meningkatkan husnudzon adalah salah satu upaya agar ibadah hati ini semakin tinggi kualitasnya di dalam diri kita.

Setidaknya ada dua keadaan ketika kita berhusnudzon kepada Alloh SWT,
Pertama, saat dia menjalankan ketaatan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda: Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَإِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

المؤمن أحسنَ الظنّ بربّه فأحسن العملَ ، وإنّ الفاجر أساءَ الظنّ بربّه فأساءَ العمل

“Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka buruk kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 402)
Hal ini menunjukkan bahwa husnudzon selalu berdampingan dengan amal sholih sehingga ketika husnudzon meningkat otomatis amal sholih seorang hambapun ikut meninggakt inilah pemahaman yang diambil oleh ahlussunnah wal jama’ah.

Ringkasnya, husnudzan pasti disertai dengan menjalankan sebab-sebab menuju keselamatan. Sebaliknya, jika menjalankan sebab-sebab kehancuran, pasti ia tidak berperasangka baik. (Disarikan dari al-Jawab al-Kaafi: 13-15).

Abu al-Abbas al-Qurthubi rahimahullah berkata, dikatakan, maknanya: berperasangka (yakin) dikabulkan doa saat berdoa, diterima saat bertaubat, diampuni saat istighfar, dan berperasangka akan diterima amal-amal saat menjalankannya sesuai dengan syarat-syaratnya; ia berpegang teguh dengan Dzat yang janji-Nya benar dan karunia-Nya melimpah. Aku katakan, ini dikuatkan oleh Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin diijabahi.” (HR. Al-Tirmidi dengan sanad shahih).

Kedua, ketika ditimpa cobaan dan musibah.
Ini adalah salah satu implementasi ibadah hati husnu dzon hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tiga hari menjelang wafatnya,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ
“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah.” (HR. Muslim)

Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (10/220) disebutkan, wajib atas seorang mukmin berperasangka baik kepada Allah Ta’ala. Tempat yang lebih banyak diwajibkan berhusdzon kepada Allah: Saat tertimpa musibah dan saat kematian. Dianjurkan berhusnudzon kepada Allah Ta’ala bagi orang yang menghadapi kematian. Terus memperbagus perasangka kepada Allah dan meningkatkannya walaupun itu terasa berat saat menghadapi kematian dan sakit. Karena seharusnya seorang mukallaf senantiasa husnudzan kepada Allah.

Hal inipun harus dipraktekan kepada sesama manusia dengan pembuktian berupa sikap ucapan dan perbuatanya yang baik, dan ini merupakan salah satu akhlak yang terpuji.

Istighfar Solusi Kehidupan

Rasululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
القلوب أربعة قلب أجرد فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن وقلب أسود منكوس فذلك قلب الكافر وقلب أغلف مربوط على غلافه فذلك قلب المنافق وقلب مصفح فيه إيمان ونفاق
“Hati itu empat macam: hati yang bersih, padanya pelita yang bersinar gemilang. Maka itulah hati orang mu’min. Hati hitam terbalik, maka itulah hati orang kafir. Hati terbungkus yang terikat bungkusannya. Itulah hati orang munafiq. Dan hati yang melintang, padanya keimanan dan kemunafikan”.
Dari sini kita bisa melihat bahwa hati seorang mukmin pada dasarnya adalah bersih sepertihalnya kertas putih, jika seorang mukmin berbuat maksiat dan dosa maka akan muncul titik hitam pada kertas tersebut semakin banyak maksiat akan semakin banyak titik hitam yang muncul sehingga menutupi usur putih pada kertas tersebut.
Alloh Ta’ala telah memberikan solusi untuk manusia ketika dia telah melakukan maksiat dan kekhilafan, harus kita garis bawahi bahwa manusia adalah makhluk yang pasti terjerembab kepada dosa dan kesalahan tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan, ada yang menyebutkan bahwa manusia berasal dari نسي-ينسى yanng artinya lupa pengertian ini sangat kental sekali dengan sifat manusia yang memang diciptakan didalamnya sifat pelupa dan khilaf sehingga Alloh Ta’ala memberikan alternatif untuk mengimbangi sifat tersebut sehingga tidak terjerumus kepada kesesatan dan kesengsaraan.
Salah satu solusi alternatifnya adalah الإستغفار, dengan ini Alloh Ta’ala menawarkan ampunan bagi siapa saja yang berbuat salah, Alloh Ta’ala berfirman,
dalam surat Hud ayat 3,

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud 3).

Alloh Ta’ala berjanji akan memberikan kehidupan yang baik secara terus menerus selama hidup didunia sampai datang ajal kelak dan memberikan berbagai kelebihan dan keistimewaan kepada mereka yang selalu beristighfar dan mohon ampun padaNya.

Beberapa pengalaman orang yang beristighfar bisa kita ikuti pada beberapa kisah berikut ini :
Dikisahkan dalam kitab Shifatus Shafwah karangan Ibnul Jauzi, bahwa suatu hari Imam Ahmad Bin Hanbal melakukan perjalanan jauh dan kemalaman, hingga sempat kebingungan untuk mencari tempat bermalam. Kemudian ia meminta izin kepada pengurus masjid setempat untuk memperbolehkannya istirahat di masjid barang satu malam.
Sayang sekali, kendati ketenaran Imam Ahmad sudah sampai di seluruh pelosok negeri, dan di wilayah tersebut sudah banyak ajaran dan pengikut mazhabnya namun tak banyak orang yang tahu bagaimana sosok dan rupa sang Imam, karena keterbatasan informasi dan teknologi.
Karena itulah, pengurus masjid tak memperbolehkannya menginap di masjid setempat. Sang Imam besar pun sempat luntang-lantung malam itu, hingga akhirnya seorang pengusaha roti bersedia menerima ia di rumahnya.
Ketika sampai di rumah si tukang roti, Imam Ahmad terus memperhatikan amalan yang diwiridkan terus oleh sang tuan rumah. Menurutnya, amalan tersebut sederhana namun istimewa. Sang tuan rumah senantiasa beristighfar dalam setiap aktivitas yang ia lakukan. Lidahnya selalu saja basah dengan zikir dan meminta ampunan Alloh.
“Wahai Tuan, apa fadhilah yang Tuan dapatkan dari amalan selalu beristighfar tersebut?” tanya Imam Ahmad penasaran. Tuan rumah pun tersenyum dan menjawab, “Fadhilahnya, setiap doa yang saya panjatkan kepada Alloh, pasti selalu dikabulkan-Nya,” jawab si tuan rumah. Imam Ahmad sangat salut kepadanya.
“Tapi, ada satu doa saya yang hingga saat ini belum dikabulkan Alloh,” sambung sang tuan rumah. Imam Ahmad pun kembali penasaran. “Doa apakah itu, Tuan?” tanyanya. “Dari dahulu, saya berdoa kepada Alloh agar saya dipertemukan dengan Imam mazhab saya, yakni Imam Ahmad bin Hanbal. Namun hingga saat ini, saya belum juga dipertemukan dengannya,” kata tuan rumah.
Mendengar itu, Imam Ahmad langsung kaget. Inilah rupanya yang memaksa seorang Imam besar luntang-lantung tengah malam. Ini juga alasannya, mengapa Imam Ahmad diusir dari masjid dan dipaksa berjalan tengah malam hingga akhirnya sampai dipertemukan dengan si tukang roti itu. Semuanya sama sekali bukan suatu kebetulan, melainkan skenario Alloh Ta’ala untuk menjawab doa si tukang roti.
Inilah kekuatan istighfar yang mampu mrnjadikan hal yang tidak masuk akal menurut pandangan manusia menjadi masuk akal. Istighfar adalah kalimat yang sangat fleksibel bisa dilakukan dimanapun kecuali WC dan kapanpun tapi sayangnya banyak manusia yang menganggap remeh hal ini, disini ada beberapa manfaat istighfar yang diambil dari berbagai sumber diantaranya,
1. Menggembirakan Alloh Ta’ala
Rasulullah bersabda, “Sungguh, Alloh lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).
2. Dicintai Alloh Ta’ala
Alloh berfirman, “Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Alloh. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak berdosa.”(HR.Ibnu Majah).
3. Dosa-dosanya diampuni
Rasulullah bersabda, “Alloh telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Imam Qatadah berkata,”Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumiddin: 1/410).
4. Selamat dari api neraka
Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka’. Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Alloh sebanyak seratus kali dalam sehari semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).
5. Mendapat balasan surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”(QS.Ali’Imran: 135-136).
6. Mengecewakan syetan
Sesungguhnya syetan telah berkata,”Demi kemulian-Mu ya Alloh, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Alloh menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku.”(HR.Ahmad dan al-Hakim).
7. Membuat syetan putus asa
Ali bin Abi thalib pernah didatangi oleh seseorang,”Saya telah melakukan dosa’.’Bertaubatlah kepada Alloh, dan jangan kamu ulangi’,kata Ali. Orang itu menjawab,’Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi’. Ali berkata, ‘Bertaubatlah kepada Alloh, dan jangan kamu ulangi’. Orang itu bertanya lagi,’Sampai kapan?’ Ali menjawab,’Sampai syetan berputus asa dan merasa rugi.”(Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).
8. Meredam azab
Alloh berfirman,”Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alloh akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).
9. Mengusir kesedihan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Alloh akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
10. Melapangkan kesempitan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Alloh akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
11. Melancarkan rizki
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
12. Membersihkan hati
Rasulullah bersabda,”Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya.”(HR.Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).
13. Mengangkat derajatnya disurga
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Alloh akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata,’Wahai Alloh, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Alloh berkata,’Karena istighfar anakmu untukmu’.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan).
14. Mengikut sunnah Rosulullah shallalhu ‘alaihi wasallam
Abu Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda,’Demi Alloh, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Alloh (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.”(HR.Bukhari).
15. Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah
Rasulullah bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).
16. Bersifat sebagai hamba Alloh yang sejati
Alloh berfirman,”Dan Alloh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Alloh), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.”(QS.Ali’Imran: 15-17).
17. Terhindar dari stampel kezhaliman
Alloh berfirman,”…Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(QS.al-Hujurat: 11).
18. Mudah mendapat anak
Alloh berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).
19. Mudah mendapatkan air hujan
Ibnu Shabih berkata,”Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata,’Perbanyaklah istighfar’. (Kitab Fathul Bari: 11/98).
20. Bertambah kekuatannya
Alloh berfirman,”Dan (dia berkata):”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”(QS.Hud: 52).
21. Bertambah kesejahteraanya
Alloh berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS.Nuh: 10-12).
22. Menjadi orang-orang yang beruntung
Alloh berfirman,”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS.an-Nur: 31). Aisyah berkata,”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).
23. Keburukannya diganti dengan kebaikan
Alloh berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Alloh dengan kebajikan. Dan adalah Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.al-Furqan: 70).
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”(QS.Hud: 114).
24. Bercitra sebagai orang mukmin
Rasulullah bersabda,”Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Alloh akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Alloh, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Alloh, maka dia adalah seorang Mukmin.”(HR.Ahmad).
25. Berkeperibadian sebagai orang bijak
Seorang ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Alloh, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Alloh, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Alloh, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67).

Maka kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk menjadikan istighfar ini sebagai tameng atau senjata untuk mengusir segala dosa dan kegundahah galauan dalam hidup ini. Wallohu’alam…

*dari berbagai sumber

Open chat
1
Chat Kami Sekarang
Assalamualaikum, berdonasi sekarang?
Anda akan Terhubung dengan admin melalui WhatsApp