fbpx

MASRUQ BIN AL-AJDA’

Masruq bin Al-Ajda’Nama, Nasab dan Kelahiran

Masruq bin al-Ajda’ adalah seorang tokoh dari kalangan generasi tabiin. Nama lengkap beliau adalah Masyruq bin al-Adja’ bin Malik bin Umayyah bin Abdillah bin Murr bin Salman atau Salaman bin Ma’mar bin al-Harits bin Abdullah bin Wadi’ah. Kunyah beliau adalah Abu Aisyah. Menurut Imam al-Khatib al-Baghdadi bahwa konon beliau diberi nama dengan Masruq (yang tercuri) dikeranakan sewaktu kecil pernah dicuri. Ia lahir pada tahun pertama hijrah atau satu tahun sebelum hijrah.

Sikap Zuhud dan Wara’ Masruq

Masruq bin al-Ajda’ termasuk tokoh tabiin yang memiliki sifat mulia. Beliau adalah orang yang zuhud, wara’, rajin beribadah, dan memiliki ilmu yang sangat dalam. Kredebilitas pribadi beliau tidak diperdebatkan lagi  karena beliau adalah orang yang tsiqoh. Abu Ishaq pernah mengatakan tentang gambaran keuletan beliau, “Masruq pernah melaksanakan ibadah haji. Tidaklah beliau melewati suatau malam melainkan dalam keadaan sujud (shalat sunnah).” Gambaran serupa juga disampaikan oleh Anas bin Sirin, “Masruq shalat hingga kedua telapak kakinya bengkak. Terkadang aku duduk di belakangnya sambil menangis karena melihat apa yang diperbuatnya terhadap dirinya.” Gambaran sifat wara’ Masruq bin al-Ajda’ adalah beliau tidak mengambil upah atas jabatannya sebagai seorang qadhi. Hal tersebut dilakukan karena beliau menafsirkan ayat ini QS. at-Taubah ayat 111 dengan sikap beliau tersebut.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim al-Muntasyir mengatakan, “Setiap hari Jumat Masruq biasa menunggang Bighol (peranakan kuda dan keledai) dan memboncengku di belakangnya. Kemudian dia mendatangi tempat pembuangan sampah tua di al-Hirah. Lalu dia menaikkan bighalnya padanya seraya mengatakan ‘Dunia ada di bawah kita’.” Kisah ini menunjukkan gambaran sikap beliau terhadap harta dunia.

Guru-guru dan Murid-murid Masruq

Beliau memiliki guru dari kalangan sahabat nabi radhiyallohu ‘anhu. Di antaranya adalah Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khtathab, Utsman bin al-Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Aisyah istri Rasulullah, dan beberapa sahabat nabi lainnya radhiyallohu ‘anhu. Murid-murid yang pernah menimba ilmu kepadanya adalah Ibrahim an-Nakha’i, Anas bin Sirin, Ayyub bin Hani’, Amir as-Sa’bi, Abdullah bin Murrah al-Khariqi, Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, Umarah bin Umair, al-Qasim bin al-Muntasyir bin al-Ajda’, dan lain-lain.

Keilmuaan Masruq

Kemuliaan akhlak dan kedalaman ilmu Masyruq bin al-Adja’ telah diakui oleh para ulama. Hal tersebut tergambar dari pengakuan ulama tentang beliau. Amir as-Sya’bi berkata, “Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang lebih giat dalam menuntut ilmu di berbagai ujung penjuru bumi daripada Masruq.” Mansur bin Ibrahim juga mengatakan, “Para murid Abdullah bin Mas’ud yang membacakan ilmu kepada manusia adalah Al-Qomah, al-Aswad, Masruq, al-Harits bin Qais, dan Amr bin Syurahbil.” Ibnu al-Madini pun pernah mengatakan tentang Maqruq bahwa, “Aku tidak mendahulukan seorang pun yang pernah shalat di belakang Abu Bakar dibandingkan Masruq.” Imam Ahmad bin Hambal mengatakan perkataan Ibnu Uyainah bahwa Masruq masih hidup sepeninggal al-Qomah dan tidak ada seorang pun yang lebih diutamakan daripadanya. Yahya bin Ma’in mengatakan, “Masruq adalah seorang yang tsiqah. Tidak perlu ditanya lagi orang semisalnya.” Pengakuan para ulama-ulama salaf tersebut menunjukkan kedudukan mulia Masruq bin al-Ajda’ rahimahullah.

Nasihat dan Kata-kata mutiara

Masyruq bin al-Adja’ pernah menyampaikan Nasihat-nasihat yang sangat berharga. Nasihat-nasihat tersebut terlahir dari sifat mulia dan kedalaman ilmu beliau. Di antaranya adalah “Cukuplah bagi seseorang sebagai ilmu bahwa ia takut kepada Alloh dan cukuplah bagi seseorang sebagai kejahilan bia ia merasa takjub dengan amalnya sendiri.” Beliau juga mengatakan “Seseorang harus memiliki majelis-majelis di mana ia menyendiri lalu dia mengingat dosa-dosanya di sana. Sehingga ia memohon ampunan kepada Alloh.” Beliau juga mengatakan “Sungguh aku memutuskan satu perkara lalu aku sesuai atau tepat dengan kebenaran adalah lebih aku cintai daripada ribath (berjaga-jaga di garis depan musuh) selama setahun di jalan Alloh.” Beliau juga mengatakan bahwa, “Barangsiapa yang senang mengetahui ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, ilmu dunia dan akhirat, maka bacalah surat al-Waqi’ah.” Imam adz-Dzahabi menjelaskan maksud perkataan beliau yaitu membacanya penuh dengan tadabur, tafakur, dan penuh penghayatan. Tidak seperti keledai yang membawa buku-buku tebal.

Wafatnya Masruq

Sufyan bin Uyainah mengatakan tentang wafatnya Masruq bin al-Ajda’ bahwa, “Beliau meninggal pada 63 H. Beliau adalah orang tsiqah dan beliau memiliki riwayat hadits-hadits yanga benar.” Wafatnya Masruq bin al-Ajda’ pada tahun 63 H ini juga sesuai dengan pendapat Yahya bin Bukair, Ibnu Sa’ad, dan Ibnu Umair.

Ikut Partisipasi Mendukung Program, Salurkan Donasi Anda di Sini!

www.takrimulquran.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Admin
1
Chat Kami Sekarang
Assalamualaikum.. Kak, ingin berdonasi sekarang ?
Anda akan Terhubung dengan admin melalui WhatsApp